LITERASI JATIMTIMES – Hai, Namaku Darma. Tapi keluarga dan teman-temanku sering memanggilku Moris.
Memang sangat jauh dari nama yang sudah bagus-bagus diberikan orang tuaku.
Alasannya, aku berbadan segar sedikit berisi dan berkulit putih layaknya ayam moris.
Julukan ini sama sekali tak mengangguku. Sampai-sampai kalau ada orang mencariku dengan nama Darma dijamin nggak bakalan ketemu. Otomatis aku sering kenalan dengan nama julukan yang tak biasa ini.
Pagi itu, aku bangun seperti biasa jam 5 pagi. Membersihkan kamar, mandi, hingga sarapan sudah selesai tepat pukul 06.15 WIB. Selanjutnya aku pamit ke Ibu dan Bapakku untuk berangkat sekolah.
“Buk, aku berangkat dulu ya,” kataku.
“Iya, hati-hati di jalan,” sahut ibuku yang masih riweh mandiin adikku di kamar mandi.
“Weh, tumben kok berangkatnya pagian,” kata bapakku seraya menyambut tanganku yang mencium tangannya.
“Ada piket,” jawabku.
“Hari pertama kok piket, palingan nyari tempat duduk paling belakang,” kata bapakku lagi dan aku cuman senyum sambil ngeloyor keluar rumah.
Tepat jam 07.30 aku sudah sampai di sekolah baruku, SMA 1 Semar. Sekolah ini jaraknya memang tak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Mulai hari ini aku berencana ke sekolah dengan berjalan kaki saja. Lumayan lah ngelatih kaki yang sudah lama selonjoran nggak ngapa-ngapain setelah libur panjang.
Sekolahku ini termasuk populer di kalangan teman-temanku. Banyak yang sudah mengincarnya jauh-jauh hari. Nilaiku yang pas-pasan ini ternyata bisa menembusnya. Meskipun bapakku sempat ketar ketir takut anaknya ini kelempar jauh ke kecamatan tetangga karena sistem berzona yang aku pun masih bingung memaknainya. Intinya, sekarang aku sudah sekolah di SMA 1 Semar.
Hari pertama memakai seragam abu-abu ini cukup menyenangkan. Aku masih duduk dengan teman sebangkuku di SMP dulu, si Lala. Gadis cerewet itu setiap pagi masih sama seperti dulu. Ngomong ngalor ngidul setiap kali jalan sampai sekolah. Di kelas pun, dia masih menceritakan kakaknya yang habis pulang dari menonton konser Stray Kidz. Ikut senang mendengar dan melihat foto-foto bias Lala di HP kakaknya. Tapi lama-lama mulutnya Lala kudu dikunci.
“Selamat pagi, Good Morning, Guide Morgen anak-anakku sekalian,” sapa seoarang guru berperawakan tinggi yang masuk ke kelasku waktu itu.
“Selamat pagi Pak,” jawab kami kompak.
Pak guru yang baru masuk itu namanya Pak Karyono. Orangnya tinggi dan lulusan perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Rambutnya kelimis dan dia banyak ngomong seperti Lala. Orangnya memang cukup jenaka dan guyonan di hari pertama ini kurasa cukup masuk lah ya. “Anak-anak, panggil saya Pak Kar saja. Tapi jangan panggil ‘Kar-bitan’ ya, saya ini asli lulusan negeri, bukan hasil dipercepat!” celetuknya yang membuat sebagian kami tertawa garing dengan guyonan itu.
Setelah celetukannya itu Pak Karyono mengeluarkan buku presensi. Satu per satu dari kami dipanggil dan diminta maju untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Berhubung namaku berawalan abjad D, jadinya aku teemasuk yang paling awal berkenalan dibanding Lala yang huruf awal namanya pakek Z.
“Darma, mana yang namanya Darma. Ayo maju kenalan,” pinta Pak Karyono.
Aku yang duduk di bangku belakang langsung beranjak menuju samping Pak Karyono.
“Nama saya Darma Setya Nugraha,” perkenalanku dengan singkat.
“Bohong pak, namanya bukan Darma, namanya Moris pak,” sahut Lala dengan suara cemprengnya.
“Kok Moris, apaan? Ayam Moris?,” Pak Karyono tertawa dengan heran.
Aku cuma bisa menghela nafas. Karena niatku menghilangkan julukan Moris ini sirna sudah. Lagi-lagi teman-teman baruku akan memanggilku Moris dan Darma tak lagi terpakai untuk tiga tahun ke depan.
“Kok diem aja kami Moris, ayo dilanjutin kenalannya,” sahut Pak Kar.
“ Iya pak, saya lahir di Semar 25 Agustus 2012. Saya anak nomor pertama dari dua bersaudara. Punya adik kecil sekarang masih kelas 1 SD,” jawabku lagi.
“Sudah itu saja? Hobimu apa Moris? Ngumpulin biji jagung di samping Balai Desa ya?,” celetuk Pak Karyono disambut tawa teman-teman baruku.
“Saya sukanya mincing pak,” jawabku.
“Mancing apaan? Mancing perhatian si dia tapi malah dapetnya penolakan ya? Hati-hati lho, mancing ikan itu butuh kesabaran, tapi kalau mancing perasaan itu butuh kepastian!” seru Pak Karyono sambil tertawa lebar, yang langsung disambut sorakan “Ciyeee” dari satu kelas. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala sambil nyengir, merasa sedikit menyesal sudah jujur tentang hobiku.
Perkenalan pertama dengan Pak Karyono hari itu selesai. Aku dan Lala pun memutuskan ke kantin setelah jam istirahat pertama bunyi. Seorang anak laki-laki dari bangku pojok menghampiriku dan Lala. Namanya Dito. Kami bertiga lalu berkenalan dan menuju kantin yang jaraknya tak jauh dari kelasku. Menjadi anak paling bontot di SMA 1 Semar ini cukup menyenangkan. Karena kelas untuk anak-anak di kelas X ini ada di lantai satu semua. Nggak harus ngoyo naik tangga yang bikin pegel.
Usai jajan di kantin, aku, Lala dan Dito balik ke kelas. Pelajaran berikutnya berlanjut hingga jam pulang. Hari ini kami pulang lebih awal. Maklum hari pertama kan ya. Aku langsung keluar kelas dan menuju rumah dengan berjalan kaki bersama Lala. Rumah kami jalannya memang searah.
Sesampai di rumah terdengar suara ibukku lagi nggosip sama tetangga kanan dan kiri.
“Wis pulang nak?,” tanya ibuku.
“Sudah buk,” jawabku sembari salim dan mengucapkan salam.
Ibukku ikut masuk meninggalkan tetangga yang pada pulang.
“Kamu ngerti Dar, mosok adikmu ini tadi nyampe sekolah nggak mau masuk,” kata ibukku.
“Lha kenapa Buk? Takut ya?,” aku menyaut.
“Katanya nggak mau sekolah di SD Semar 2, maunya di SD Semar 1. Jadi dia tadi ngamuk-ngamuk di gerbang terus langsung jalan sendiri ke SD Semar 1. Adikmu ini memang kok. Mana uang pendaftaran sama seragam sudah lunas. Ini ngamuk minta ke sekolah Semar 1,” cerita ibukku.
Aku cuman bisa ngakak dengernya. Adikku memang YOLO banget. Waktu TK dia sekolah di deket SD Semar 1. Teman-temannya pun sekarang pada sekolah di SD Semar 1. Jadi mungkin itu juga alasannya dia milih SD Semar 1 dan menolak masuk kelas di SD Semar 2. Alhasil ibukku harus meminta uang pendaftaran di SD Semar 2 dikembalikan. Seragam pun yang beda harus terpaksa beli yang baru lagi.
“Lha temen-temenku kan sekolahnya di SD Semar 1. Nggak mau aku disekolahkan di SD Semar 2,” jawab adikku sambil bermain.
Ibukku cuman bisa pasrah mendengar celoteh adikku. Keinginan ibukku supaya ngantar sekolah nggak terlalu jauh kini pupus sudah.
“Owalah, SD Semar 2 ini lebih deket dari rumah. Ini kok malah milih sekolah yang jauh. Malu aku minta uang pendaftarannya ini,” kata ibukku. Aku cuman bisa nyengir dan ketawa lihat kelakuan adikku.
Melihat ibuku yang pusing dan adikku yang santai saja, aku sadar satu hal. Di keluarga ini, mau namaku Darma atau Moris, sepertinya yang paling punya kuasa tetaplah si bungsu yang YOLO itu.
