Cerita Dibalik Pintu Asrama Pondok Pesantren

LITERASI JATIMTIMES

Wait, bagaimana sih pendapat sebagian orang soal pondok pesantren? Ada yang bilang “Belajar di pondok itu seru-seru aja”, ‘Nggak tau’, dan beberapa  ada yang bilang “Ah nggak enak tuh, jauh dari rumah, nggak bisa main sama tetangga, ah nggak enak dah!”. Sebenarnya, beberapa abad silam pun aku juga setuju dengan pendapat terakhir itu, pokoknya nggak enak banget!. Pikirku bila di pondok, aku merasa gerak gerik kita tiap hari, tiap jam ,tiap menit, tiap detik, dipantau melulu. Ruang gerak kita juga terbatas, otomatis kita nggak bisa keluar sewaktu waktu.

Tapi sekarang,  aku adalah seorang santri di pondok. Serius? Iya, serius! Awal dari aku berstatus santri dadakan dimulai dari liburanku yang membosankan. Pada suatu pagi, aku membuka leptop dengan ibuku. Kami berencana menonton film-film seperti Super Mario, Spiderman Accros The Spider Verse. Tapi di tengah aku mencari film yang seru, aku menemukan film Negeri 5 Menara. Entah apa yang merasuki pikiranku, aku pun memilihnya dan ternyata film ini tuh bagus banget! Jujur deh film ini yang membawa aku ke pikiran yang baru “Apa aku sekolah di pondok pesantren saja ya? Bagaimana rasanya beraktivitas di asrama?’

Akhirnya, disinilah awal perjalananku menuju santri dadakan. Aku dan orang tuaku mencari pondok pesantren di dalam dan luar kota. Akhirnya kami menemukan 3 pondok  pesantren pilihan di luar kota. Tetapi, ternyata ketiganya tidak ada yang cocok menurutku dan orang tuaku. Kami mulai putus asa. Tetapi, kalau aku menyerah, aku tidak akan pernah berhasil menjawab rasa penasaranku tentang sekolah di pondok pesantren. Setelah berbulan-bulan memendam pertanyaanku soal kehidupan pondok pesantren, akhirnya oh akhirnya, orang tuaku dan aku menemukan pondok yang pas untukku. Sebelum memutuskan, kami telah berdiskusi tentang kesesuaian visi misi sekolah dengan kebutuhan ku dan harapan orang tua. Bagiku sih terserah pondok pesantren yang mana, asalkan di sana aku bisa menuntut ilmu, dan yang pasti mengungkap pertanyaan enak nggak sih di pondok tuh?

Akhirnya tibalah di hari sabtu, hari yang kutunggu untuk masuk pondok. Rasanya saat awal masuk pondok biasa saja. Satu-dua jam ditinggal orang tua, aku biasa saja. Jam-jam selanjutnya kok jadi teringat keadaan di rumah, teman-teman, saudara-saudara, bahkan malamnya pun aku tak bisa tidur hingga muncul pertanyaan, ‘Kenapa aku nekat masuk pondok demi menjawab pertanyaan tidak jelas itu? Kalau menuntut ilmu juga bisa di sekolah biasa seperti yang lainnya”.  Batinku mulai bergejolak. Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari berlalu dan akhirnya aku mulai berteman dengan teman sekamar, teman kamar tetangga, teman kamar lantai atas, kakak kelas, kakak SMA, para ustadz, bapak sekuriti.

Aku mulai mendengar cerita mereka, pengalaman lika-liku mereka. Ada yang masuk tim futsal sekolah dengan beribu pengalaman. Ada yang pindahan dari sekolah lain lalu sekolah di pondok pesantren ini. Ada yang sudah dari SD dapat banyak prestasi nasional, jago panahan, pintar Bahasa inggris, dan banyak lagi. Nah, minggu ke minggu berlalu cepat sekali, tidak terasa aku sudah adaptasi sama pondok pesantren ini. Luar biasa, ternyata aku makin suka dengan kegiatan di pondok ini. Yang awalnya cuma ingin tahu hidup di pondok itu seperti apa, dan sekarang berujung ke pengalaman baru. Semua itu berawal dari film dengan judul 3 kata< Negeri 5 Menara.

Sebenarnya, aktivitas di pondok ini seru juga, kegiatan kita terjadwal. Kita bangun jam setengah dua pagi “Ngapain bangun jam 2? kami melaksanakan sholat lail”. Lalu beraktivitas hingga waktu shubuh. Setelah shalat shubuh, kita mengaji di masjid dari habis subuh sampai syuruq (artinya matahari mulai terbit dari timur). Nah baru setelah ngaji, aktivitas tak kalah seru dimulai. Teman-temanku (termasuk aku sih hehehe) lari sekencang-kencangnya ke arah asrama. Apa yang terjadi? ini waktunya mandi! take a bath! Antri mandi! Eits, jangan bayangkan kamar mandi kami kotor ya, kamar mandi kami bersih. Kami selalu ada agenda menjaga kerapian dan kebersihan ruangan. Dan sekalipun semua ingin segera mandi, kami pun tetap antri menunggu giliran

Tepat pukul 07.00, kita harus menyudahi kegiatan seru ini. Karena apa? Yap, kita akan pergi ke sekolah! Aktivitas sekolah di gedung sebelah dimulai jam 07.30 dan selesai jam 15.00. Sorenya, kita ada jam bebas, cihuyy!! Biasanya ada banyak aktivitas yang kita lakukan. Ada yang main futsal, jajan di kantin, bincang santai dengan teman dan Ustadz, ada juga yang mandi dengan riang (karena jam luangnya relatif lama, jadi bagi yang mandi duluan akan merasa merdeka). Kalau sudah jam 17.00, suasana asrama menjadi ramai lagi karena kami akan melakukan aktivitas berikutnya.

Malam hari pun tiba, penutup aktivitas pondok sudah dekat. Setelah sholat maghrib, halaqah Quran, shalat isya, dan membaca surat As Sajadah dan Al Mulk. Jam selanjutnya diisi dengan belajar mandiri, dan dilanjut dengan Gerakan wajib tidur paling lambat jam 10 malam. Dan siap memulai hari esok kembali dengan segar.

Ok, ok, sampai juga di penghujung acara, eh… cerita, tidak cukup cerita tanpa inti kesimpulan. Nah, untuk pertanyaan belajar di pondok pesantren enak atau tidak? Aku sudah menemukan jawabannya. Sekolah di pondok pesantren tuh enak, seru, meriah, mandiri. Dari film yang kupilih secara tidak sengaja, sekarang aku merasakan cerita itu menjadi nyata. Dan aku tidak menyesal dengan pilihanku, aku semakin menikmati dari hari ke hari. Sekolah juga mendukung aku dan teman-temanku untuk berprestasi. Dari sini aku belajar bahwa hal kecil yang ingin ku tahu, bisa berdampak besar untukku, mulai dari sesuatu yang biasa, bisa menemukan CERITA DI BALIK PINTU ASRAMA PONDOK PESANTREN.

Penulis : Agha Adli Putrathandie, merupakan siswa SMP Luqman Al Hakim Surabaya.