LITERASI JATIMTIMES – Tahun lalu, sebuah video hoaks tentang “guru diganti robot AI” menyebar ke ribuan grup WhatsApp guru se-Indonesia. Dalam 24 jam, dibagikan jutaan kali. Tidak ada yang memeriksa sumbernya. Ironisnya, yang paling rajin menyebarkannya adalah orang-orang yang pekerjaannya mengajarkan anak berpikir kritis.
Inilah wajah literasi digital Indonesia hari ini, sebuah kontradiksi yang nyata namun jarang kita akui secara terbuka.
Data We Are Social tahun 2024 mencatat bahwa rata-rata pengguna internet Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari di dunia maya. Generasi Z, yang lahir antara 1997 hingga 2012, adalah kelompok paling dominan di ruang digital tersebut. Mereka tumbuh bersama gawai, intuitif dalam navigasi aplikasi, dan fasih berbicara dalam bahasa visual media sosial.
Fasih menggunakan platform tidak sama dengan mampu mengevaluasi isinya — satu kemampuan teknis, yang lain kemampuan berpikir.
Kenyataannya, banyak anak muda kita belum sampai ke lapisan itu. Sebuah survei Kominfo tahun 2023 mengungkap bahwa indeks literasi digital Indonesia masih berada di angka 3,54 dari skala 5 yang menyimpan kelemahan serius pada pilar “keamanan digital” dan “budaya digital” yang justru paling krusial dalam menghadapi derasnya arus informasi.
Sebagai lulusan pendidikan yang baru saja menyelesaikan studi, saya menyaksikan sendiri betapa sistem pembelajaran kita masih terjebak dalam pendekatan yang tidak seimbang. Literasi digital di sekolah sering kali berakhir pada materi mengetik, mengenal perangkat lunak, atau sekadar etika bermedia sosial yang normatif. Jarang sekali ruang kelas menjadi tempat untuk berlatih memverifikasi sumber, membaca data secara kritis, atau mendebat narasi yang menyesatkan.
Kurikulum Merdeka sebenarnya membuka celah untuk itu. Semangat berpikir kritis dan pembelajaran berbasis proyek sejatinya bisa menjadi wadah yang ideal untuk melatih siswa bukan sekadar konsumen informasi, melainkan evaluator yang cakap. Namun implementasinya masih jauh dari merata. Banyak guru yang belum mendapat pembekalan memadai, dan banyak sekolah yang masih kekurangan infrastruktur dasar. Akibatnya, potensi itu terhenti di atas kertas.
Konsekuensinya bukan sekadar “mudah percaya hoaks.” Ia jauh lebih luas. Generasi yang tidak terlatih membaca informasi secara kritis adalah generasi yang rentan dimanipulasi. Penipuan online, radikalisasi berbasis konten digital, hingga polarisasi opini publik, semuanya tumbuh subur dalam ekosistem di mana pengguna aktif namun tidak kritis.
Lebih mengkhawatirkan lagi, pasivitas kritis ini tidak dirasakan sebagai masalah oleh mereka yang mengalaminya. Generasi Z merasa sudah “tahu dunia” karena setiap hari terpapar ribuan informasi. Padahal volume konsumsi bukan jaminan kualitas pemahaman.
Satu jam per minggu di setiap kelas dialokasikan khusus untuk “sidang fakta”, bahwa siswa membawa satu berita yang beredar di grup keluarganya, lalu kelas bersama-sama memverifikasi menggunakan standar cek fakta dasar. Tidak butuh kurikulum baru. Tidak butuh anggaran tambahan. Hanya butuh keberanian guru untuk memulai.
Literasi digital bukan soal seberapa canggih gawai yang dipegang, tapi seberapa tajam pikiran yang menggunakannya. Generasi Z tidak kekurangan akses, mereka kekurangan latihan. Dan latihan itu dimulai di kelas, dari guru yang berani, hari ini.
Penulis : Muh. Noaf Afgani, S.Pd., merupakan lulusan pendidikan yang menaruh perhatian pada isu literasi dan transformasi pendidikan Indonesia.

