Pemberontakan Bulan Purnama

LITERASI JATIMTIMES – Luxin merupakan seorang raja dari sebuah negeri yang makmur bernama Eqwar. Negeri ini terkenal dengan hasil pertaniannya yang melimpah. Kebun dan persawahan di daerah ini selalu terlihat hijau. Namun dibalik kemakmuran itu ada rakyat yang tak banyak merasakan hasil panen dari kebun dan persawahan yang mereka miliki. Karena Luxin memerintahkan rakyatnya untuk menyerahkan seluruh hasil panen mereka sebagai pajak yang dibayarkan kepada kerajaan dan melarang kebebasan berpendapat.

Setiap hari sang raja mengelilingi pemukiman warganya untuk mengecek hasil tani rakyatnya. Jika sampai ada hasil yang rusak, mereka tidak akan diberi jatah pangan sama sekali. Sungguh tak sebanding dengan kemewahan yang ada di istana. Hampir setiap hari Raja Luxin mengadakan pesta dari hasil panen rakyatnya. Tapi rakyat harus merasakan kelaparan akibat perbuatannya. Sungguh ia adalah raja yang sangat egois.

Rakyat hanya bisa berpura-pura tersenyum manis di depan Raja Luxin. Tapi sesungguhnya, dada mereka sesak. Amarah terus berkobar. Namun tidak ada seorang pun yang berani melawan, bahkan melanggar aturan yang dibuatnya. Hingga suatu ketika, seorang pemuda bernama Justine tak tahan lagi dengan perilaku Raja Luxin. Ia mulai memprovokasi seluruh warga untuk berdemo di depan istana untuk menuntut keadilan. Awalnya para warga tidak setuju dengan ajakan itu, karena mereka takut akan hukuman yang mereka terima dari sang raja. Namun, Justine meyakinkan para warga agar mereka berani menuntut hak-hak mereka demi keluarga yang sedang kelaparan.

Setelah perdebatan cukup panjang, rakyat pun setuju untuk melakukan demo. Mereka berbondong-bondong menuju ke istana dengan membawa obor. Sesampainya di istana, mereka semua berteriak meminta keadilan.

“Kembalikan hak kami!”

“Tegakkan keadilan!”

“Kami berhak atas tanah kami. Kami berhak atas hasil bumi kami!”

“Turun dari tahtamu wahai Raja Luxin!”

Raja luxin tidak peduli dengan teriakan mereka, justru ia memerintahkan para pengawal untuk menyerang para pendemo. Tapi hal itu tidak memadamkan semangat juang. Mereka justru menyerang balik dengan melemparkan obor yang mereka bawa. Benteng istana bagian depan mulai membara dengan kobaran api. Rakyat dan prajurit saling menyerang.

Kali ini kekuatan rakyat tidak sebanding dengan para prajurit istana. Mereka dipukul mundur dengan sadis oleh para prajurit yang mengakibatkan banyak rakyat terluka. Rakyat pun semakin marah. Tapi mereka terpaksa menyerah, mereka harus kembali ke pemukiman demi keselamatan bersama.

Keesokan harinya, Justine mengumpulkan para warga untuk menyusun strategi pemberontakan kepada raja.

“Wahai rakyat Eqwar tercinta. Perjuangan kita belum selesai. Kita tidak bisa menyerah begitu saja. Kita harus tetap memperjuangkan hak-hak kita sebagai rakyat Eqwar. Mari kita kembali susun strategi untuk menyerang dan menggulingkan Raja Luxin”  dan memberi ide cemerlang.

“para warga, bagaimana kalau kita menyerang kerajaan pada saat bulan purnama, selagi menunggu bulan purnama, mari kita persiapkan persenjataan, strategi, obat-obatan dan pangan, Aku akan membagi kelompok untuk mempersiapkannya. Pangan dan obat obatan akan dipersiapkan oleh kelompok wanita, sedangkan persenjataan dipersiapkan oleh kelompok pria”. Kemudian ada 1 pria yang bernama Roby, ia berkata “woy, jangan ngawur, mana bisa kita mengalahkan raja yang kejam itu, bisa bisa kita yang dipermalukan” para warga bersorak “benar-benar!!”

“Kita tidak mungkin bisa!”

“Itu hal yang mustahil!”

Justine pun meyakinkan warga untuk tidak mudah menyerah, Justine berkata bahwa kita semua harus mengumpulkan kekompakan dan semangat untuk menang. Para warga yang mendengar nya juga mulai berpikir kalau kita semua kompak dan penuh semangat, mungkin bisa menang, dan akhirnya para warga termasuk Roby menyetujui Justine.

Besoknya para warga mulai mempersiapkan semua kebutuhannya, kelompok wanita menyisihkan sebagian hasil tani mereka untuk stok pangan , dan juga mengumpulkan obat-obatan dari tanaman herbal di hutan. Kelompok pria membuat perlengkapan perang, seperti pedang, busur, perisai dan lain lain.

Setelah berhari-hari, akhirnya malam bulan purnama semakin dekat, dan semua perlengkapan sudah siap. Justine kembali mengumpulkan warga untuk merencanakan strategi penyerangan istana.

“tengah malam besok, kelompok pria mengepung seluruh istana, bagian belakang depan dan samping. Penyerangan diawali dengan para pemanah, panah masuk kedalam istana melalui jendela. Setelah itu raja mengeluarkan pasukan nya untuk menyerang kita, awalnya kita jangan panik dulu, jangan langsung menyerang. Tangkis semua serangan mereka, tunggu sampai mereka kehabisan tenaga, baru kita mulai menyerang. Jika ada yang terluka, kembalilah ke belakang untuk mendapat pengobatan dari kelompok wanita. Selagi semua sibuk perang, aku akan diam-diam masuk ke dalam istana untuk menyerang raja. bagaimana, sepakat?”.

Para warga berteriak dengan semangat.

“sepakat!”

“Kita pasti berhasil!!”

Malam bulan purnama pun tiba, seluruh warga mulai mengepung kerajaan. Panah panah mulai berterbangan ke dalam istana, Raja Kucing yang menyadarinya mulai mengerahkan seluruh pasukan istana untuk menyerang para warga. Seperti yang direncanakan para warga hanya menangkis semua serangan mereka, sampai seluruh pasukan istana mulai kelelahan, para warga langsung menyerang pasukan istana. Selagi semua sibuk perang, Justine diam diam masuk ke istana untuk menemui Raja Luxin. Raja Luxin melihat Justine dengan tatapan yang sombong, ia berpikir bahwa ia akan menang, Raja Luxin mulai menyerang justin dengan pedang miliknya, Justine yang menghadapinya tidak diam saja, ia juga mulai menyerang Raja Luxin. Setelah pertempuran yang cukup lama, Raja Luxin menebas Justine dengan pedangnya, Justine yang sudah kelelahan tidak bisa menghindarinya, tebasan sang raja mengenai dada Justine. Namun, secara ajaib, justine kebal terhadap serangan yang diberikan oleh Raja Luxin dan semua luka yang berada di tubuh Justine mulainya sembuh dengan sendirinya., Justine yang menyadarinya mulai menyerang Raja Luxin, dan akhirnya Raja Luxin pun mati.

Justine keluar dari istana, ia melihat bahwa seluruh pasukan istana telah dikalahkan. , para warga banyak yang terluka. Justine mengumumkan kepada para warga bahwa Raja Luxin sudah mati. Para warga pun bersorak dengan bahagia.

Para warga mengangkat Justine sebagai raja baru di kerajaan Eqwar, karena sifatnya yang bijaksana dan baik hati membuat warga menyukainya. Dengan senang hati, Justine menerimanya. Di Bawah pimpinannya, ia memperbolehkan warganya untuk bebas berpendapat dan kerajaan Eqwar menjadi kerajaan yang makmur dan damai.

Penulis : Muhammad Haidar Musyafa’ siswa kelas 9D MTs NU Pakis.

Post navigation