JEJAK ANNE

Mereka mengawasi.

Tak ada ruang untuk masyarakat bawah.

Dewan Suci berada di atas sana.

 

LITERASI JATIMTIMES – Jalanan terasa sesak, ditelan kerumunan penduduk kota Feyra. Pamflet-pamflet milik Dewan suci bertebaran dimana-mana. Mata mereka mengawasi bagai elang—tak memberi ruang untuk bernapas.

Portrait pria gendut yang duduk seakan ia adalah dewa. Tulisan mengekang repetitif.

“Pelanggar aturan adalah musuh sebenarnya. They’re watching.”

Klise.

Namun, tak ada yang berani menertawakan.

Anne Hargrove bekerja di balik kilaunya kaca—di dunia yang tampak bersih, tapi menyesakkan; sebuah sangkar yang terlalu luas untuk disebut rumah.

Gadis itu harus menelan semua kata dalam diam, bergerak sesuai ketaatan. EYE mengintainya— sebuah program AI yang diciptakan oleh Dewan suci agar dapat mengawasi semua pergerakkannya.

Dalam kehidupan seperti ini, mulut harus tertutup rapat, langkah harus terjaga. Pelanggaran sekecil apapun, dan kau akan hilang dalam semalam. Sepatu usang milik Anne menginjak beton-beton rusak di antara ribuan orang.

Jalanan kota Feyra penuh debu. Penuh kesunyian. Suara kendaraan ataupun suara-suara orang berbicara tampak sirna. Hanya napas Anne yang menyatu dengan debu.

Mata hijaunya menatap ke arah gedung-gedung tinggi yang tertutup kabut. Kilatan rasa muak muncul di matanya. Seakan bertanya dalam diam.

“Kapan semua ini berakhir?”

Pikirannya terjerat keraguan. Melarangnya untuk keluar dari semua ini. Namun, ia muak dengan aturan. Ia ingin kebebasan. Bebas seperti burung yang terbang kesana-kemari.

Layar komputer menyilaukan mata. Kilatan wajah lelah dan rambut hitam yang tertata rapi terlihat di layar—menyuruh nya untuk tetap bekerja, bekerja, dan bekerja.

Anne ingin berhenti. Namun setiap kali menatap foto adik laki-lakinya di meja kerja—keinginannya terhenti.

“Aku muak.” Gumamnya lirih—begitu lirih hingga dunia yang penuh aturan pun tak bisa mendengarnya.

Ketaatan adalah kebebasan,

Pengawasan adalah kasih.

Kata-kata itu selalu tergantung di setiap pintu rumah—seakan itu adalah nabi-nabi yang mengawasi. Tujuh Arbiter bekerja di balik tirai. Tak ada yang tahu siapa mereka. Mereka hanya muncul di depan layar—berbicara soal kesetiaan, kesucian, dan ketaatan.

Yang lebih terdengar seperti pencucian otak. Slogan mereka sama. “Yang kotor harus dihapuskan, agar cahaya tetap putih.”

Ancaman halus agar masyarakat bawah berpikir dua kali untuk melanggar aturan Dewan suci. Agar terjebak di dalam sangkar mereka.

Dahulu, ibunya juga termasuk dalam Tujuh Arbiter—Hanya Anne lah yang tahu. Hanya ia lah yang menyembunyikan rahasia ibunya. Namun, suatu malam ia menemukan ibunya tak kembali ke rumah. Selamanya.

Saat seorang bayi terlahir, para perwakilan Dewan suci akan menanam ID Chip di tangan sang bayi. Chip itu dapat menunjukkan identitas, mengintai ketaatan dalam bekerja, merekam seluruh percakapan selama 72 jam, dan bahkan mengendalikan emosi seseorang.

Tetapi Chip itu tak selamanya berfungsi—terdapat sebuah tempat yang menjadi titik buta dari Chip itu. Blind Zones. Sebuah tempat yang terdengar seperti mitos belaka. Tak ada yang pernah menemukan keberadaan tempat itu.

Desas-desus nya; untuk sampai ketempat tersebut membutuhkan satu kertas khusus—yang entah didapatkan dari mana. Kertas usang dengan tinta merah yang memberikan petunjuk. Kertas yang hanya didapatkan oleh orang-orang beruntung.

Dan, Anne adalah satu dari ribuan orang yang beruntung. Ia mendapatkannya.

Malam itu, Anne menatap kertas merah lekat-lekat. Seakan membawa gairah baru dalam dirinya.

Bau logam berkarat, debu, dan sisa-sisa pembakaran bercampur menjadi satu—menusuk hidung. Udara di bawah tanah terasa lebih berat daripada di atas. Cahaya kecil dari senter milik Anne menerangi petunjuk-petunjuk merah yang membawanya semakin dalam.

Di atas sana, para polisi ketaatan sedang berpatroli. Mengawasi siapa saja yang berani keluar dari batas waktu yang ditentukan.

Tapi, di sini? Anne merasa bebas tanpa adanya aturan, tanpa Chip yang menyala di balik kulitnya, tanpa ada Tujuh Arbiter yang memantaunya. Hanya dia, senter kecil, dan entah siapa yang ada di bawah sana.

Langkah Anne terasa berat. Tangga itu berdecit pelan—seakan memberi bisikan rahasia. Mata gadis itu menelusuri seluruh ruangan, seluruh sudut yang bisa ia jangkau dengan pengelihatannya.

Salah satu dinding memiliki corak merah. Anne mengarahkan senternya ke arah dinding itu— mencoba melihatnya lebih jelas. Sebuah simbol…Simbol itu terlihat seperti mata bermahkota. Dan ada tanda silang di atasnya.

Rasa penasaran berkecamuk di pikiran Anne. Mendekatinya atau tidak. Sebelum sempat berpikir, kaki Anne berjalan tanpa sadar. Mendekati simbol yang tergambar di dinding usang itu. Tangannya terulur—mencoba untuk menyentuh sang simbol.

“Ehm.” Suara deheman seorang lelaki terdengar jelas, tepat di belakang Anne. Dengan panik, gadis itu cepat membalikkan badan. Kedua tangannya terangkat di atas udara.

“Aku tidak bermaksud menyentuh apapun!” Ucapan kata maaf melesat dari bibir Anne. “Maaf–”

“Anne Hargrove, kan?”

“Bagaimana kau tahu namaku?”

“Kami tahu banyak tentang orang-orang yang muak.”

“Matikan cahayamu. Mereka mungkin masih bisa mendeteksi panas.”

Sosok itu mengenakan jaket kulit lusuh, wajahnya tertutupi oleh kain, hanya menyisakan matanya yang dalam dan rambut cokelat berantakan.

Anne mengangguk, mematikan senter miliknya. Lelaki itu menyalakan obor kecil—cahaya merambat ke seluruh ruangan.

“Kau mirip sekali dengan ibumu, Anne.”

 

Ini kali pertamanya ia tidak ditatap oleh kamera, melainkan oleh seorang manusia. Udara di bawah tanah terasa hangat. Campuran dari obor kecil milik sosok itu dan ruangan yang lembab.

Di hadapannya, sosok itu berdiri tegak—tanpa rasa ragu. Ia membuka kain di wajahnya. Memperlihatkan rahang tegas yang dipenuhi bekas luka.

“Dahulu aku salah satu dari mereka.” “Dewan?

“Divisi cahaya. Sama seperti ibumu.”

Detak jantung Anne berhenti beberapa detik. Tak ada yang pernah membahasnya, bahkan dirinya sendiri.

“Kau tahu apa yang terjadi pada ibumu?”

Anne terdiam, bahunya menegang.

“Dia… hilang?”

“Tidak,” suara Alex tenang tapi dalam, “mereka menyucikannya — karena ia berani bertanya tentang cahaya.”

“Kau persis seperti ibumu.”

Alex menatapnya dengan campuran kagum dan kerinduan. “Tipikal Hargrove—selalu mencari cahaya, meski tahu akan terbakar.”

Senyum miring muncul di wajah lelaki itu. Senyumnya tulus, tapi matanya penuh arti yang tak di mengerti Anne.

“I’m Alex Haywers.”

“Ibumu menitipkan sesuatu padaku sebelum ia disucikan.” Alex merogoh saku jaket usangnya. Ia mengulurkan tangannya ke arah Anne untuk memberikan sebuah benda kecil di tangannya.

“Sebuah Chip tua?” Anne menatapnya dengan bingung—ragu-ragu ia mengambil Chip itu. Chipnya terasa lebih tua dari umurnya dari umurnya sendiri. “Bukankah ini bisa dilacak para Dewan?” “Tidak, jika kita mengeluarkan Chip yang ada di balik kulitmu itu.”

“Caranya?”

“Mengambilnya dengan cara manual. Sepertiku dulu.” Alex memperlihatkan pergelangan tangannya—terdapat bekas luka tepat di atas kulit kasar itu*

ID Chip telah dikeluarkan dari kulit Anne. Ia merasakan rasa sakit yang berdenyut dibalik balutan perban. Tapi, ia tahu satu hal—ia terbebas dari pengawasan EYE, terbebas dari kamera-kamera sialan itu.

“Kau mungkin sudah bebas dari Chip itu. Tapi, dewan tidak tidur.”

 

 “Satu data hilang.”

“Nama: HARGROVE, ANNE.’

Rekaman terputar di balik layar kecil. Seorang wanita—yang begitu mirip dengan Anne berdiri disana. Bercak darah tercetak di pipinya.

“Sweetheart..” Suara wanita itu lirih.

“Jika kau menonton rekaman ini, percayalah kau berada di jalan yang tepat.” Wanita itu terdiam, “Cahaya sejati tidak mengekang, melainkan memberikan kebebasan.”

Rekaman itu mengalami glitch sebelum layar menjadi hitam.

“That’s… My mom.” Suara Anne bergetar karena amarah. Suaranya tersendat di tenggorokannya—ia bahkan tak mampu mengatakan apapun setelah melihat semua ini.

Suara mesin dari kejauhan terdengar seperti dengusan lapar—di atas sana, kota Feyra di penuhi drone dan polisi ketaatan yang mengintai setiap sudut. Dewan belum tahu lokasi pasti mereka, tapi itu hanya soal waktu.

Alex mendongak ke atas, seakan mengkalkulasikan kejadian yang akan datang. “Mereka dekat.” Nadanya tegas dan mantap.

“Chip itu punya satu lagi.” Tatapannya jatuh ke mata Anne. “Dia punya data yang terenkripsi menuju Arsip Cahaya.”

“Itu… Tempat semua rahasia mereka tersimpan, bukan?”

“Ya. Tunggu apalagi?”

“Aku akan terus di sisimu, Hargrove.”

“You promise?”

“Promise.”

“Aku tidak akan kehilangan seorang Hargrove lagi.”

 

Langit malam di atas kota Feyra semakin berat. Bau oli, karat, dan debu bercampur menjadi satu. Tangan Alex menggenggam tangannya erat-erat—seakan takut Anne akan menghilang jika ia melepaskan genggamannya.

“Itu pusat kota,” Gumam Alex. “Jantung dari semua kebohongan.”

“Jangan lepas genggamanku, Anne. Aku tak ingin kau terluka.”

Mereka melangkah menuju menara tinggi yang disebut Arsip Cahaya—sebuah bangunan tanpa jendela, berdiri di tengah kabut, di jaga raturan drone.

Anne menatap menara itu tanpa gentar. “Aku tak akan mundur.”

Pintu logam besar di dasar mereka terbuka setelah Chip di tangan Anne menyala. Cahaya merah berdenyut pelan menjadi biru.

“Selamat datang, Arbiter 03.” Suara mesin bergema berat.

Mata Anne mengamati ruangan itu—dinding-dindingnya dipenuhi layar-layar dari wajah orang yang pernah di sucikan. Anne merasa ngeri. “Mereka menyebut ini tempat penyucian?”

“Lebih mirip penjara.”

Tiba-tiba, mata Anne terpaku pada salah satu layar.

“HARGROVE, CELLINE.”

Ibunya.

Matanya melebar—dipenuhi rasa kaget dan kesedihan. “Itu..” Ia tergagap. Tak mampu mengucapkan kata-kata. Suara rekaman muncul kembali; suaranya lebih lirih.

‘Jika kau mendengar ini, mereka gagal mematikan cahaya.’

Dan..Sirine tiba-tiba meraung dengan keras.

PERINGATAN;

PENYUSUP TERDETEKSI

“Anne! Ambil semua datanya!” Ujar Alex sembari mengecek pintu keluar. “Pintunya akan segera tertutup!”

Jantung Anne berpacu. Ia segera berlari ke arah panel—menancapkan Chipnya dengan tergesa-gesa. Ribuan data terbuka—informasi, lokasi, semuanya.

SUBJEK HARGROVE

DITEMUKAN.

Anne mencabut Chipnya dan menggenggamnya erat-erat. Ia menoleh ke arah Alex. “Sudah! Ayo pergi!”

“Terlambat.”

“Apa Maksudmu!?”

Anne lengah. Alex mendorongnya keluar—wajahnya diterangi sirine merah. Senyum samar terukir di wajahnya. “Kau harus hidup, Hargrove.”

Pintu baja itu tertutup rapat. Suara dentuman berteriak keras di ruangan itu.

Mata Anne terbelalak lebar. Tubuhnya lemas—jiwanya terasa diambil begitu cepat. Ia terjatuh di tanah. “Not again..”

Tangannya terkepal erat—ia menghantam tanah dengan tangannya yang terkepal. Buku-buku jarinya lecet, namun Anne tak peduli.

“Persetan dengan semua ini. Semua ini tak ada gunanya..”

“Menyerah Hargrove?”

Napas Anne tersendat.

 

Satu lagi, gugur.

Mata Anne terbuka karena cahaya lampu yang begitu terang. Kebingungan menghantam kepalanya. Ia dikelilingi bilik putih polos—layar besar berdiri dihadapannya.

Wajah Tujuh Arbiter mengawasinya. Seperti predator yang mengintai mangsanya dalam diam.

“Oh, Hargrove. Kau tak jauh beda seperti ibumu.” Tawa kering keluar dari bibir mereka. “Mencoba menyalakan cahaya yang terbakar.”

“Walau semua usahamu tak ada gunanya.”

Rahang Anne terkatup rapat. Kilatan matanya dipenuhi rasa benci dendam. “Aku mungkin mati.”

“Tetapi, tidak untuk kebenaran.”

“Gadis naif.”

“Musnahkan kegelapan. Cahaya harus tetap suci.”

“Kalian menyebut ketaatan itu kasih. Dan aku menyebutnya kurungan.”

Cahaya putih menerangi seluruh ruangan. Menghapus semuanya.

SATU DATA DIHAPUS.

ANNE HARGROVE.

“Kegelapan harus dimusnahkan, agar cahaya tetap putih.”

Dunia Feyra tetap berjalan. Dewan suci tetap ada.

Tapi di salah satu layar tua yang terlupakan, sebuah teks berkedip pelan: ACCES GRANTED: HARGROVE.

 

Penulis : Btari Puti Kaia Sekarlangit, merupakan siswa SMPN 4 Kepanjen, Kabupaten Malang.

Post navigation