Beasiswa Sekolah

LITERASI JATIMTIMES – Pagi itu, aula SD 1 Semar tampak lebih ramai dari biasanya. Ibu-ibu dengan pakaian rapi duduk berderet di kursi plastik, menunggu nama anak mereka dipanggil. Di tangan mereka, terselip buku tabungan beasiswa yang baru saja dicairkan. Termasuk Ibu Kasta, yang sesekali mengelus kepala Reka, anaknya yang duduk di kelas 2.

“Alhamdulillah ya, Bu Kasta. Akhirnya Reka dapat juga. Bisa buat beli sepatu sama tas baru,” bisik Ibu Sum yang duduk di sebelahnya.

Ibu Kasta tersenyum tulus. “Iya, Bu Sum. Reka sudah lama mengincar tas gambar astronot itu.”

Namun, kegembiraan itu tak bertahan lama. Setelah acara simbolis selesai, Pak Padri, salah satu guru senior, berdiri di depan pintu keluar. Ia memberikan kode agar para wali murid masuk ke ruang kelas kecil di sudut sekolah secara bergiliran.

Saat giliran Ibu Kasta masuk ke ruang 1B, suasana mendadak dingin. Di sana, Pak Padri, guru senior yang dikenal memiliki pengaruh kuat, duduk di balik meja guru dengan tumpukan map cokelat dan sebuah kotak kayu tanpa gembok.

“Silakan duduk, Bu Kasta. Selamat ya untuk Reka. Saldo satu juta sudah masuk ke tabungan,” ujar Pak Padri dengan nada datar, namun matanya tajam memperhatikan buku tabungan di tangan Ibu Kasta.

“Terima kasih, Pak Padri. Ini sangat membantu kami,” jawab Ibu Kasta sopan.

Pak Padri berdeham, lalu menarik sebuah daftar panjang. “Begini, Bu. Sebagaimana yang sudah disepakati secara ‘informal’ lewat koordinator, ada biaya administrasi dan jasa untuk pihak luar. Perlu Ibu tahu, beasiswa ini tidak turun begitu saja. Ada ‘kepanjangan tangan’ orang pusat yang mengawal data Reka supaya lolos. Sebagai ucapan terima kasih dan biaya operasional mereka, Ibu diminta menyetor 40 persen dari nilai beasiswa. Jadi, 400 ribu rupiah ya, Bu. Masukkan saja ke kotak itu.”

Ibu Kasta tertegun. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah terik matahari. “Empat puluh persen? Tapi Pak, di petunjuk teknis yang saya baca di website resmi, beasiswa ini harus diterima utuh oleh siswa. Tidak ada biaya admin, apalagi biaya untuk ‘orang pusat’.”

Wajah Pak Padri mengeras. “Bu Kasta, jangan terlalu idealis. Kalau Ibu tidak mau kerja sama, tahun depan nama Reka bisa saja ‘terselip’ atau hilang dari sistem. Pihak luar itu punya kuasa mencoret siapa saja. Pilih mana? Dapat 600 ribu atau tidak dapat sama sekali?”

Ibu Kasta keluar dari ruangan dengan tangan gemetar, bukan karena takut, melainkan menahan geram. Di bawah pohon mangga besar di depan gerbang, ia melihat Ibu Sum, Ibu Tri, dan Ibu Sus sedang berkumpul. Wajah mereka muram, ada yang sedang menghitung sisa uang di dompet dengan tangan lesu.

“Kalian juga dipotong?” tanya Ibu Kasta tanpa basa-basi.

“Iya, Bu Kasta. Saya baru saja kasih 400 ribu. Padahal tadinya mau buat bayar tunggakan LKS dan seragam olahraga yang sudah sempit,” keluh Ibu Tri dengan mata berkaca-kaca.

“Saya juga diminta, tapi saya bilang uangnya belum diambil semua di bank. Pak Padri malah menyuruh saya balik lagi besok,” timpal Ibu Sus dengan nada kesal sekaligus takut.

Ibu Kasta berdiri tegak, ia memandang gedung sekolahnya dengan tatapan berapi-api. “Ibu-ibu, dengarkan saya. Ini bukan sekadar uang 400 ribu. Ini tentang harga diri kita dan masa depan anak-anak. Jika kita biarkan oknum seperti Pak Padri memotong hak anak kita sekarang, besok-besok mereka akan meminta lebih. Mereka memakan uang keringat anak-anak yang belajar siang malam untuk dapat beasiswa ini!”

“Tapi Bu Kasta, nanti kalau Reka dipersulit nilainya bagaimana?” Ibu Sum tampak ragu.

“Nilai bisa dikejar dengan belajar, tapi mental pengecut akan menempel selamanya jika kita diam melihat kecurangan. Kita punya bukti! Kita punya buku tabungan! Ayo, kita hadapi Pak Padri bersama-sama. Kalau satu orang bicara, dia bisa mengancam. Tapi kalau kita semua bicara, dia yang akan gemetar!”

Keberanian Ibu Kasta menular. Ibu Sum, Ibu Tri, dan Ibu Sus akhirnya ikut melangkah kembali menuju ruang 1B. Beberapa wali murid lain yang sedang mengantre mulai menoleh, penasaran dengan rombongan ibu-ibu yang tampak bertekad bulat itu.

“Pak Padri!” seru Ibu Kasta sambil membuka pintu kelas dengan tegas. “Kami keberatan dengan potongan 40 persen itu. Kami ingin melihat dasar hukum tertulis yang menyatakan adanya biaya ‘kepanjangan tangan’ itu!”

Pak Padri bangkit dari kursinya, wajahnya memerah karena malu dan marah karena merasa otoritasnya ditantang di depan umum. “Ibu Kasta, tolong jangan memprovokasi yang lain. Ini urusan internal sekolah!”

“Ini bukan urusan internal, Pak! Ini uang negara untuk siswa!” sahut Ibu Tri yang mulai berani. “Mana kuitansi resminya kalau memang itu biaya administrasi?”

Melihat suasana memanas, Pak Padri mencoba mengelak. “Ibu-ibu tidak mengerti politik bantuan. Tanpa orang pusat itu, SD 1 Semar tidak akan dapat kuota sebanyak ini!”

“Kalau begitu, biar kami tanya langsung ke Dinas Pendidikan atau lapor ke Satgas Saber Pungli lewat SMS Center,” ancam Ibu Kasta sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. “Saya sudah merekam percakapan kita tadi, Pak. Penjelasan Bapak soal ‘biaya operasional’ sudah tersimpan di sini.”.

Mendengar kata ‘rekaman’ dan ‘Saber Pungli’, wajah Pak Padri mendadak pucat. Ia tahu betul jika hal ini sampai ke telinga Kepala Sekolah yang jujur—atau lebih buruk lagi, ke media sosial—kariernya sebagai guru akan tamat seketika.

“Eh, sebentar… jangan emosi dulu,” nada suara Pak Padri mendadak melunak, bahkan terdengar gugup. “Mungkin ada salah paham. Maksud saya tadi itu… bagi yang ingin menyumbang secara sukarela saja untuk kas sekolah. Kalau keberatan, ya sudah, tidak apa-apa. Uang yang tadi sudah masuk, silakan diambil kembali di daftar ini.”

Ketegangan di depan ruang 1B rupanya menarik perhatian Pak kepsek, Pak Danu, yang baru saja kembali dari rapat di Dinas Pendidikan. Ia melihat kerumunan wali murid yang tidak biasa dan mendengar suara lantang Ibu Kasta yang menggema di koridor.

“Ada apa ini? Kenapa ramai-ramai di depan kelas?” tanya Pak Danu dengan nada tenang namun berwibawa.

Seketika, suasana hening. Pak Padri yang tadi wajahnya pucat, kini berkeringat dingin. “Anu, Pak… ini hanya koordinasi rutin bantuan beasiswa,” jawabnya gagap.

Ibu Kasta tidak membiarkan kesempatan itu hilang. “Bukan koordinasi, Pak Danu. Pak Padri meminta kami mengembalikan 40 persen dana beasiswa anak-anak kami. Katanya untuk administrasi dan jatah ‘kepanjangan tangan’ di luar sekolah. Kami menolak, Pak!”

Wajah Pak Danu yang ramah seketika berubah serius. Ia menatap kotak kayu di atas meja, lalu menatap Pak Padri dengan tajam. “Biaya administrasi? Saya tidak pernah menginstruksikan adanya pemotongan sepeser pun. Semua beasiswa harus utuh sampai ke tangan siswa.”

Pak Danu meminta Ibu Kasta, Ibu Sum, Ibu Tri, dan Ibu Sus masuk ke ruang kepala sekolah, sementara Pak Padri diminta ikut serta dengan wajah tertunduk lesu. Di dalam ruangan yang sejuk itu, Ibu Kasta menceritakan kronologi lengkap, termasuk ancaman pencoretan nama penerima beasiswa tahun depan.

“Tadi Pak Padri bilang, kalau kami tidak setor, tahun depan anak kami tidak akan dapat lagi,” tambah Ibu Sum, suaranya masih sedikit bergetar karena emosi.

Pak Danu menghela napas panjang. Ia menatap Pak Padri dengan kecewa. “Pak Padri, Anda adalah guru senior di SD 1 Semar. Tugas kita adalah memastikan hak-hak anak ini terpenuhi, bukan malah menjadi jembatan bagi praktik pungli dengan alasan ‘orang pusat’. Tidak ada itu kepanjangan tangan. Itu hanya karangan untuk menakuti orang tua murid!”

Pak Padri hanya bisa menatap lantai, tak mampu membela diri saat rekaman suara dari ponsel Ibu Kasta diputar ulang di hadapan kepala sekolah. Bukti itu telak.

“Ibu-ibu sekalian,” kata Pak Danu sambil berdiri. “Saya atas nama sekolah memohon maaf atas tindakan oknum ini. Saya jamin, tidak akan ada pencoretan nama hanya karena Ibu sekalian mempertahankan hak. Besok, saya sendiri yang akan menghadap ke Dinas untuk melaporkan pelanggaran disiplin ini agar tidak terjadi lagi.”

Ibu Kasta dan kawan-kawan keluar dari ruang kepala sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Beban 400 ribu yang tadi menghimpit dada mereka kini terbang sirna.

Sore itu, di kedai es cendol depan sekolah, Ibu Kasta mentraktir Ibu Sum, Ibu Tri, dan Ibu Sus. Sambil mengawasi anak-anak mereka, termasuk Reka yang asyik bercanda, mereka merayakan kemenangan kecil itu.

“Ternyata kalau kita berani bicara, kebenaran itu ada jalannya ya, Bu Kasta,” ujar Ibu Sus sambil menyeruput esnya.

“Betul, Bu. Yang penting kita jangan takut selama kita benar,” jawab Ibu Kasta mantap.

Beberapa hari kemudian, Reka berangkat ke sekolah dengan tas astronot biru navy yang masih berbau toko dan sepatu hitam baru yang mengkilap. Namun, ada yang lebih mengkilap dari sepatunya hari itu yaitu binar kebanggaan di mata Reka saat melihat ibunya.

Ibu Kasta tidak hanya memberinya fasilitas sekolah, tapi memberinya pelajaran hidup yang tidak ada di buku paket mana pun: bahwa integritas tidak bisa dibeli, dan keberanian adalah modal utama untuk melawan ketidakadilan.

Di SD 1 Semar, kotak kayu itu tidak pernah terlihat lagi. Pak Padri dipindahtugaskan ke bagian administrasi di kantor wilayah sebagai bentuk sanksi, dan sejak hari itu, setiap kali pengumuman beasiswa tiba, tidak ada lagi bisik-bisik ketakutan di bawah pohon mangga. Hanya ada senyum lebar para orang tua yang tahu bahwa sekolah mereka kini benar-benar menjadi tempat yang aman bagi masa depan anak-anak mereka.

Post navigation