Ilustrasi

Makan Gratis di Sekolah

LITERASI JATIIMTIMES – Libur panjang akhir semester SMA 1 Semar sudah berakhir. Seluruh siswa tampak semangat menuju sekolah kesayangan mereka untuk menerima pelajaran kembali setelah hiatus dari LKS selama tiga minggu lamanya. Suasana sekolah yang sebelumnya sepi kembali meriah dan ramai. Bahkan, abang-abang penjual jajanan sudah berjejer di depan pintu gerbang sejak setelah subuh.

Meskipin sekolah menengah ke atas, murid-murid SMA 1 Semar memang masih doyan dengan jajanan anak-anak. Jadi tak heran jika anak-anak sableng SMA 1 Semar masih sering berebut dengan murid TK dan SD yang gedung sekolahnya masih satu kompleks dengan mereka. Bahkan terkadang Dito sering nangis karena jajanan abang-abang diborong anak-anak SD dan TK yang jam istirahatnya lebih duluan.

Tapi hari ini Dito kegirangan, karena sempol sampai telor gulung abang-abang masih banyak. Jadi dia bisa beli puas-puas.

“Lha tumbenan ini Bang jajanan masih ada, biasanya sudah ludes sama bokem bokem,” kata Dito sembari memesan sempol sepuluh ribu.

“Iya tong, dari tadi dagangan sepi banget. Itu anak-anak nggak ada yang ke luar beli jajan. Katanya ada makan gratis noh di dalem. Tadi yang jajan cuman sedikit anak aja,” jawab abang sempol sembari sedikit menghela nafas.

“Oww, makan gratisnya sudah sampe ke sini to. Berarti bentaran lagi anak-anak SMA juga bakalan dapat jatahnya,” Dito girang.

“Iya tong, semoga dagangan abang tetep laku ye nanti. Kalian tetep sisain buat jajan di abang,” guyon abang sempol.

“Tenang bang, perut ane selalu muat sama makanan banyak,” Dito girang.

Dito kembali ke sekolah dengan membawa banyak jenis jajanan. Dengan mata berbinar dia masuk ke kelas dan membagikan jajanannya itu dengan sohib-sohibnya.

“Wih, borong banyak nih,” Darma nyeletuk sembari menyamber satu sempol tanpa saos.

“Ambil satu aja, nggak usah banyak-banyak,” gerutu Dito.

“Halah, baru satu ini Dit,” timpal Danur dan Lala yang juga nggak mau ketinggalan makan jajanan Dito.

“Anak-anak TK sama SD nggak ada yang jajan, untung banyak aku hari ini nggak kehabisan,” Dito terus cerita dan mengunyah jajanan itu.

Tak lama bel sekolah berbunyi. Dito buru-buru memasukkan jajan yang belum habis ke laci. Sesekali ia menyomotnya waktu Pak Kar memberikan pelajaran Fisika.

Di pojok kelas, Dito masih asyik dengan “operasi senyap”-nya. Setiap kali Pak Kar membelakangi kelas untuk menulis rumus percepatan di papan tulis, tangan Dito dengan lihai masuk ke laci, mengambil satu tusuk sempol yang sudah dingin, lalu hap! mengunyahnya secepat kilat.

“Psst, Dit! Bagi satu lagi dong, pelit amat,” bisik Darma sambil menyenggol lengan Dito.

“Sst! Berisik! Nanti ketahuan Pak Kar,” desis Dito. Tapi ia tetap memberikan sisa telur gulungnya yang terakhir.

Namun, perlahan-lahan, keceriaan Dito mulai pudar. Perutnya mulai mengeluarkan bunyi keroncongan yang aneh—bukan karena lapar, tapi karena “huru-hara” di dalam sana. Sempol sepuluh ribu rupanya bukan jumlah yang sedikit untuk sarapan darurat. Wajah Dito yang tadi berbinar, kini mulai berubah sedikit pucat. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di pelipisnya.

“Dit, lu kenapa? Kok mukanya kayak kertas HVS?” tanya Lala yang duduk di depan Dito sambil menoleh ke belakang.

“Kekenyangan… kayaknya tadi keberatan sambal,” jawab Dito sambil memegangi perutnya yang terasa keras.

Tepat saat itu, suasana kelas yang tenang mendadak pecah oleh bisik-bisik dari arah pintu. Beberapa siswa yang duduk di dekat jendela mulai kasak-kusuk.

“Eh, liat tuh di lapangan! Ada mobil boks putih parkir,” bisik Danur heboh.

“Iya, ada petugas pakai seragam bersih-bersih bawa kontainer makanan. Kayaknya kabar burung soal makan gratis itu beneran, deh!” timpal yang lain.

Pak Kar mengetuk penghapus papan tulis ke meja. Tok! Tok! Tok! “Harap tenang! Perhatikan Hukum Newton di depan, jangan perhatikan orang yang di luar!” tegur Pak Kar.

Dito menelan ludah. Ia melirik lacinya yang masih menyisakan bungkus plastik berminyak. Perasaan bersalah mulai muncul. Jika benar ada makan gratis dengan gizi lengkap, maka sempol dan telur gulung yang baru saja ia habiskan adalah sebuah kesalahan strategi yang besar.

“Duh, kalau ada ayam goreng, perutku taruh mana lagi?” gumam Dito nelangsa yang saat itu mendongak melihat ke arah lapangan dari jendela kelas.

Keheningan kelas pun berlanjut hingga pelajaran Fisika Pak Kar selesai. Istirahat jam ke dua dimulai saat bel berbunyi. Anak-anak langsung berhamburan menuju kantin. Seperti biasa, suasana kantin SMA 1 Semar selalu riuh dengan anak-anak yang berebut makan. Candaan mereka pun terasa hangat di setiap sudut kantin.

Tapi tiba-tiba saja Dito memandangi wajah Bu Kantin yang tampak lemas tak seceria hari-hari.

“Kenapa Bu, lemes amat,” Tanya Dito.

“Iya Dit, ibu lagi galau berat,” jawab Ibu Kantin.

“Galau kenapa Bu? Dicampakin Pak Kantin?,” gurau Darma berharap bu kantin senyum.

Tapi nyatanya Bu Kantin yang dikenal mbanyol dan gampang tertawa dengan candaan garing anak-anak itu sama sekali tak bereaksi.

“Besok kalian dapat makan gratis kan?,” tanya Bu Kantin.

“Denger-denger sih gitu Bu, tapi Pak Preng (Kepala Sekola SMA 1 Semar) belum kasih kabar lagi tuh,” jawab Darma.

“Kalau ada makan gratis kantin bakaln sepi deh, ibu harus jualan di mana lagi ya?,” curhat Ibu Kantin. Darma, Dito, Danur, dan Lala cuman bisa bengong. Bakso dan mie yang mereka pesan pun sampai dingin dan nggak hangat lagi.

“Kok galau Bu, nggak usah dipikirin,” tiba-tiba Pak Breng datang memecah keheningan.

“Loh Pak Kepala Sekolah di sini to,” jawab Bu Kantin.

“Saya pesan bakso Bu, dikasih bihub sama sayur yang banyakan ya,” pinta Pak Preng.

Nggak butuh lama bakso pesanan mendarat di meja Pak Preng yang duduk bersama anak-anak di kantin.

“Mulai hari ini dan seterusnya yang makan di kantin bakalan bapak traktir,” teriak Pak Preng.

Sontak, seisi kantin yang tadinya bising mendadak senyap. Sendok dan garpu yang beradu dengan mangkuk seolah berhenti di udara. Dito hampir saja tersedak kuah baksonya mendengar teriakan Pak Preng yang menggelegar namun penuh senyum itu.

“Beneran Pak? Bapak lagi nggak bercanda kan karena habis menang undian?” celetuk Darma polos.

Pak Preng tertawa renyah sembari mengaduk bihun di mangkuknya. “Bapak serius. Tapi ada syarat dan ketentuannya!”

Ibu Kantin yang sedari tadi murung, kini mendekat dengan wajah penuh tanya. “Maksudnya gimana toh Pak? Saya tambah bingung. Kalau Bapak traktir semua anak hari ini, besok-besok nasib jualan saya gimana kalau program makan gratis itu jalan?”

Pak Preng meletakkan sendoknya, lalu menatap Ibu Kantin dan anak-anak di sekelilingnya dengan saksama.

“Begini Bapak-Ibu dan anak-anakku semua,” ujar Pak Preng dengan nada bicara yang lebih tenang namun berwibawa. “Memang ada program makan gratis, tapi kan saya belum bilang itu makan gratis modelannya gimana. Jadi makan gratisnya itu ya di kantin ini. Bu kantin nanti yang masak buat anak-anak,” jawab Pak Preng santai.

Pak Preng menjelaskan bahwa sekolah tidak akan memesan katering dari luar. Sebaliknya, sekolah akan bekerja sama langsung dengan para pedagang kantin. Setiap hari, sekolah akan membayar porsi makan siang siswa kepada Ibu Kantin dan pedagang lainnya, sesuai dengan standar menu bergizi dan harga yang sudah ditentukan. Siswa tetap makan di kantin seperti biasa, namun mereka tidak perlu membayar. Cukup menunjukkan kartu siswa atau kupon yang dibagikan sekolah.

“Jadi, Bu Kantin tetap masak, tetap jualan, dan tetap punya penghasilan. Bedanya, yang bayar bukan anak-anak lagi, tapi anggaran sekolah yang sudah dialokasikan,” pungkas Pak Preng.

Ibu Kantin langsung menyeka matanya yang berkaca-kaca dengan ujung celemeknya. “Ya Allah, Pak… saya kira saya bakal digusur karena ada nasi kotak dari luar.”

“Ya enggak dong, Bu. Masakan Ibu itu sudah jadi jantungnya SMA 1 Semar. Mana mungkin saya biarkan mati,” jawab Pak Preng santai sembari melahap baksonya.

Dito, Darma, Danur, dan Lala saling berpandangan. Rasa dingin pada bakso mereka seolah sirna, berganti dengan semangat baru.

“Berarti besok kita makan bakso gratis tiap hari nih, Pak?” tanya Danur dengan mata berbinar.

“Eits, menunya diatur! Ada jadwalnya. Senin nasi sayur, Selasa protein tinggi, nah mungkin Jumat baru boleh bakso,” goda Pak Preng. “Sekarang, habiskan bakso kalian. Ingat, hari ini Bapak yang bayar, tapi habis ini bantu Ibu Kantin beresin mangkuknya sebagai tanda syukur!”

Kantin yang sempat tegang itu pun kembali pecah dalam tawa. Ibu Kantin kembali cekatan meracik pesanan dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya, sementara anak-anak mulai sibuk merencanakan menu apa yang paling mereka inginkan untuk minggu depan.

Post navigation