Aktif Vs Nakal

LITERASI JATIMTIMES – Belakangan ini, tidak sedikit orang yang dengan cepat memberi label “nakal” pada anak-anak yang terlihat sangat aktif. Anak yang banyak bergerak, sulit diam, gemar bertanya, dan penuh energi sering kali dianggap mengganggu atau tidak patuh. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua anak aktif berperilaku negatif. Ada anak aktif yang memang kesulitan mengendalikan diri sehingga tampak melawan aturan, tetapi ada pula anak aktif yang tetap penurut, sopan, dan mampu mengikuti arahan dengan baik. Keaktifan sejatinya adalah karakter energi, bukan ukuran baik atau buruknya perilaku.

Di sisi lain, banyak contoh anak aktif yang justru menonjol karena sikapnya yang positif. Mereka bersemangat membantu guru, antusias saat belajar, mudah bergaul, dan cepat merespons instruksi. Energi yang besar membuat mereka produktif, bukan destruktif. Perbedaan antara anak aktif yang cenderung dianggap nakal dan anak aktif yang penurut sering kali terletak pada kemampuan mengelola emosi, konsistensi aturan yang diterapkan, serta pola asuh yang mereka terima. Karena itu, penting bagi kita untuk tidak menyederhanakan keaktifan sebagai kenakalan, melainkan memahami faktor-faktor yang membentuk perilaku anak secara lebih utuh.

Anak usia 5–7 tahun berada pada fase emas perkembangan. Pada usia ini, anak biasanya sudah mampu berbicara dengan lancar, mengungkapkan pendapat, bertanya tanpa henti, serta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka mulai mampu mengikuti aturan sederhana, bermain bersama teman, belajar membaca atau menulis dasar, serta mengembangkan koordinasi motorik seperti berlari, melompat, menggambar, dan menyusun balok. Secara sosial-emosional, anak usia ini juga mulai belajar memahami perasaan orang lain, meskipun kontrol emosinya masih berkembang. Energi mereka besar, imajinasi mereka luas, dan kebutuhan untuk bergerak hampir tak pernah habis.

Anak aktif adalah anak yang memiliki energi tinggi dan antusiasme besar terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka cenderung banyak bergerak, banyak bertanya, suka mencoba hal baru, dan cepat bereaksi terhadap rangsangan di sekitar. Anak aktif biasanya mudah bergaul, berani tampil, serta tidak ragu mengeksplorasi sesuatu yang menarik perhatiannya. Mereka senang belajar melalui pengalaman langsung daripada hanya duduk diam mendengarkan. Sering kali anak aktif terlihat “tidak bisa diam”, padahal sebenarnya mereka sedang memproses informasi dan belajar dengan caranya sendiri. Keaktifan ini merupakan potensi besar apabila diarahkan dengan tepat.

Berbeda dengan anak aktif, anak nakal adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan perilaku yang melanggar aturan secara berulang dan disengaja. Anak yang disebut nakal mungkin sering mengganggu teman, tidak mau mengikuti aturan, berbohong, merusak barang, atau menunjukkan perilaku agresif seperti memukul dan mengejek. Perilaku ini bukan sekadar energi berlebih, melainkan tindakan yang menunjukkan kurangnya kontrol diri dan empati. Penting dipahami bahwa label “nakal” sering kali muncul karena perilaku yang tidak sesuai harapan orang dewasa, padahal di baliknya bisa jadi ada kebutuhan emosi yang belum terpenuhi.

Anak aktif bisa saja berkembang menjadi anak yang dianggap nakal jika tidak mendapatkan arahan dan bimbingan yang tepat. Kurangnya batasan yang konsisten, minimnya perhatian positif, pola asuh yang terlalu keras atau justru terlalu permisif, serta kurangnya kesempatan menyalurkan energi dapat menjadi pemicu. Anak yang energinya tidak tersalurkan cenderung mencari cara lain untuk mendapat perhatian, termasuk melalui perilaku negatif. Selain itu, faktor lingkungan seperti tontonan yang tidak sesuai usia, kurangnya komunikasi, atau kelelahan juga dapat memengaruhi perilaku anak. Ketika anak aktif sering ditegur tanpa diberi alternatif perilaku yang benar, mereka bisa merasa frustrasi dan meluapkannya dalam bentuk tantrum atau tindakan melawan.

Agar anak aktif berkembang menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengalah, dan tidak mudah tantrum, orang tua perlu menerapkan beberapa strategi. Pertama, berikan aturan yang jelas dan konsisten agar anak memahami batasan. Kedua, sediakan aktivitas fisik dan kreatif untuk menyalurkan energi, seperti olahraga, bermain di luar, atau kegiatan seni. Ketiga, ajarkan keterampilan mengelola emosi dengan memberi contoh cara menenangkan diri, seperti menarik napas dalam atau berbicara tentang perasaan. Keempat, beri pujian pada perilaku positif agar anak merasa dihargai ketika mampu mengendalikan diri. Kelima, latih empati dengan mengajak anak memahami perasaan teman dan belajar bergantian saat bermain. Dengan pendekatan ini, keaktifan anak justru menjadi modal untuk tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri dan tangguh.

Pada akhirnya, peran orang tua dan guru sangat menentukan arah perkembangan anak aktif. Tugas orang dewasa bukanlah mematikan energi anak, melainkan mengarahkannya. Orang tua dan guru perlu bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, namun tetap tegas dalam aturan. Anak membutuhkan contoh nyata tentang kesabaran, komunikasi yang baik, dan cara menyelesaikan konflik. Ketika anak aktif mendapatkan dukungan, perhatian, dan bimbingan yang konsisten, mereka tidak akan tumbuh menjadi “nakal”, melainkan menjadi individu yang bersemangat, mandiri, dan mampu bersosialisasi dengan baik. Energi besar yang mereka miliki bukanlah masalah, melainkan potensi yang menunggu untuk dibentuk dengan bijaksana.

Penulis : Faridatun Nafi’a, S.PdI, merupakan Guru TK Islam Sabilillah Malang 2

Post navigation