Guru dan Sportifitasnya

LITERASI JATIMTIMES – Beberapa bulan yang lalu pernah menulis bagaimana membangun budaya ilmiah disekolah,mudah mudahan masih ada dalam ingatan kita,atau saya sedikit ingatkan Kembali.

Konsep membangun budaya Ilmiah di sekolah,adalah berangkat dari karakter personal terlebih dahulu,karakter personal yang wajib dihindari agar bisa dan mampu membangun budaya ilmiah di sekolah Adalah :

  1. Membiasakan tumbuh penyakit hati iri dengki terutama sama partner kerja yang justru dianggap baik atau mempunyai prestasi
  2. Suka menjatuhkan teman (julit, toxic, dengki);
  3. Merasa di langkahi;
  4. Merasa tidak mampu mengerjakan tugas sementara orang lain mampu.

Empat poin di atas sangat penting bagi siapapun dan pihak mana pun dalam lembaga pendidikan, lalu  diharapkan kita  mampu bersikap dewasa dan matang dalam mencerna realitas hidup yang begitu beragam. Sikap dewasa personal akan mampu mendorong kita untuk tidak punya pandangan secara parsial dalam melihat kenyataan hidup. Jika poin-poin diatas hidup dan berkembang dalam karakter personal dalam lembaga, maka sulit bagi sebuah lembaga pendidikan untuk membangun budaya Ilmiah.

Budaya ilmiah akan tercipta ketika diri sendiri yang merupakan bagian dari lembaga mampu menghidupkan tradisi saling memberikan apresiasi dalam kultur terbuka, mampu membangun kehendak yang terus menerus membuka diri dalam berinteraksi, sehingga terwujud kebersamaan hidup. Mempunyai pikiran yang terbuka, bahkan terhadap kenyataan itu tak kan terbantahkan. Selalu berfikir jernih sehingga apapun hal hal yang ada dan terjadi, terlaksana dengan nyata dan konkret dan menjauhi sikap merasa paling baik, inilah bagian utama yang bisa membangun budaya ilmiah lembaga pendidikan.

Lalu adakah hubungannya antara budaya ilmiah yang dibangun disekolah/lembaga pendidikan dengan sportifits personal/guru???

Jawabannya pasti karena membangun budaya ilmiah butuh sportivitas personalnya. Budaya ilmiah disekolah jika sudah konkret dan praktis tentu akan menyenangkan, bukan hanya pada siswa tetapi bagi semua yang ada dilingkungan sekolah itu. Walau yang dominan tuntutan adalah tertuju pada para pendidik yaitu guru.

Mungkin ketika dulu kita mengambil jurusan perkuliahan tak sempat berfikir konsekwensi ketika lulus dengan lebel pendidik. Lebel kasta tertinggi dalam pergulatan kehidupan, yang semua harapan tertumpu agar mampu benar menyokong SDM yang mumpuni dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa bahkan bernegara. Walau kadang minim apresiasi apalagi menghargai guru atau pendidik, di fase tumbuh kembangnya pendidikan sekarang bukan hanya dituntut untuk bagaimana mengembangkan diri, untuk menunjang profesinya, tapi juga dituntut hati hati dalam mengelola pikiran dan tindakan yang kadang harus berbenturan dengan kode etik dan hukum. Miris memang, dan ini harus menjadi Pekerjaan Rumah bagi pengelola kebijakan dalam dunia pendidikan dan menjadi pelajaran bagi seorang pendidik bahwa niat baik tak selalu berbalas baik.

Menyelamatkan diri dari jerat hukum atas pelanggaran kode etik, bukan sekadar bagaimana kita menghindari karakter buruk pada diri kita. Bukan lantas kita acuh tak acuh pada amanah yang sudah Allah percayakan ke kita. Karena kalau ini terjadi, maka yang terjadi bukan pencerahan didunia pendidikan tapi justru awal dari kehancurannya karena komitmen dan sportivitas yang hilang.

Maka dari itu mari kita kembali melihat profesi kita dengan terbuka, tidak ada dalam hidup ini hal yang aman aman saja, apapun profesinya, tapi apakah lantas harus memilih mati ,karena tak berani menghadapi tantangan dan benturan demi benturan?..ohhh Now…

Minimal kita menjalani profesi pendidik dengan landasan landasan yang terus kita pahami terus kita dalami dan terus kita praktikkan.

Lalu bagaimana guru yang sportif dalam sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai budaya Ilmiah???

Pertama, pekalah pada kebutuhan dan kepentingan anak didik. Menjadi pelayan dan pemandu anak didik, sehingga tanggung jawab membawa anak didik ke jalan yang benar, benar-benar kita laksanakan. Kedua, guru harus punya komunikasi konstruktif dan mampu bergerak dinamis sehingga mampu memahami permasalahan anak anak didik nya. Tidak mudah memang tapi ini konsekuensi profesi yang butuh kemampuan sportif dari seorang pendidik. Ketiga, Guru atau pendidik adalah tumpuan  hidup dari anak anak didik nya, selalu ada dalam suka dukanya, selalu ada di garda depan untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan belajar anak anak didik nya. Ke empat sepertinya guru memang ditakdirkan untuk tidak mengenal lelah, untuk mentransfer ilmu, mendidik dengan hati dan merangkulnya dengan kasih sayang disetiap waktu atau bahkan disetiap saat.

Tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan dengan kesportifan, yang tidak akan amanah jika tak landasi kesadaran profesi, keikhlasan dan kesabaran. Mungkin tulisan ini adalah bagian kecil saja dari sebuah perjuangan profesi pendidik atau guru. Tapi minimal semua pihak paham terutama orang tua dan masyarakat, betapa profesi pendidik atau guru bukan profesi yang kaleng kaleng. Guru dan pendidik butuh dukungan bukan benturan, guru dan pendidik butuh kerjasama bukan perseteruan. Guru dan pendidik butuh ruang untuk berjuang, bukan bidikan kesalahan yang terus menerus menjadi bahan perbincangan. Guru dan pendidik adalah manusia layaknya manusia, selama kode etik tidak mereka langgar selama tindakannya tak melanggar undang-undang, marilah ruang damai kita berikan, ruang dukungan kita ikrarkan, ruang independen terarah kita berikan.

Percaya atau tidak membangun lingkungan ilmiah lembaga pendidikan butuh kepedulian dan kerja sama yang bukan hanya personal internal, tapi mereka yang peduli dan sadar bahwa dari lembaga pendidikan lah anak anak kita masa depannya terarah.

Hanya sekedar menebar manfaat mohon maaf jika tidak sepakat.

Penulis: Retno Afifah, merupakan KS SMPN 1 Jangkar sekaligus Sekbid Hukum LKBH PGRI Situbondo.

Post navigation