Malam Takbiran

LITERASI JATIMTIMES – Lampu bohlam kuno di halaman panti asuhan Rumah Kasih Sayang menerangi setiap sudut dengan cahaya kuning keemasan yang lembut, seperti senyum malaikat yang menjaga anak-anak yatim piatu yang tinggal di sana. Angin malam membawa irama takbir yang terdengar dari berbagai arah—suara-suara penuh rasa syukur yang bergema di antara rerumputan yang mulai tumbuh subur setelah hujan pagi tadi. Malam Takbiran telah tiba, menghiasi langit yang penuh dengan bintang-bintang berkilau seperti mutiara yang tersebar di atas kain hitam yang luas.

Di tengah keramaian anak-anak yang sedang bersiap untuk mengikuti kelompok takbir keliling desa, Fitri duduk sendiri di tangga kayu depan ruang makan. Gadis berusia sembilan tahun itu mengenakan baju kurung warna biru muda yang sudah mulai memudar warnanya, dengan renda putih yang menambah kesederhanaan penampilannya. Rambut hitamnya yang lurus diikat rapi dengan pita kertas berwarna merah, hadiah dari ibu Yayuk yang mengurus kebersihan panti setiap hari. Matanya yang besar dan cerah seperti matahari pagi sedang memperhatikan langit dengan tatapan yang penuh dengan rasa ingin tahu dan sedikit kesedihan yang menyelimuti hatinya.

Fitri tidak pernah melihat wajah ayah dan ibunya. Dia dibawa ke panti asuhan ketika dia masih bayi baru beberapa bulan, dibungkus dengan selimut wol berwarna cream yang sudah aus, tanpa ada surat atau tanda apapun yang bisa memberikan petunjuk tentang identitas orang tuanya. Selama ini, dia selalu merasa bahwa panti asuhan adalah rumahnya dan anak-anak lain yang tinggal di sana adalah saudara-saudaranya. Namun, setiap kali malam Takbiran tiba dan dia melihat keluarga-keluarga yang sedang berkumpul riang renta, rasa ingin tahu tentang orang tuanya semakin menggelegak di dalam hatinya seperti ombak yang menggulung di lautan dalam.

“Kak Amel, apa rasanya punya ayah dan ibu?” tanya Fitri dengan suara yang lembut saat kakak perempuan yang lebih tua itu mendekatinya dengan tumpukan parcel yang akan dibagikan kepada anak-anak besok pagi. Kak Amel berusia dua puluh tahun, gadis yang selalu terlihat tegas dan penuh tanggung jawab—dia adalah asisten pengurus panti yang seringkali sibuk mengatur segala keperluan anak-anak, terutama menjelang hari raya.

Kak Amel sedang fokus menghitung jumlah parcel yang sudah dibungkus rapi dengan kertas kado berwarna hijau dan emas. Tangannya yang ramping sedang mencatat setiap jumlah di buku catatan yang sudah mulai kusam akibat sering digunakan. Suara Fitri yang tiba-tiba datang membuatnya sedikit terkejut, dan ujung pena yang dia pegang hampir menyentuh buku catatan dengan terlalu keras.

“Fitri, tidak usah menggangguku sekarang! Aku sedang sibuk menghitung parcel agar tidak ada yang kurang besok. Kalau kamu ingin bertanya sesuatu, tunggu saja sampai aku selesai!” suara Kak Amel terdengar keras dan tajam, seperti kilat yang menyambar di langit yang gelap. Matanya yang biasanya lembut kini penuh dengan kesal karena pekerjaannya terganggu.

Fitri terkejut mendengarnya. Hatinya seperti ditusuk oleh jarum yang tajam, membuatnya merasa sakit dan sedikit malu. Dia tidak berniat untuk mengganggu kakak Amel—dia hanya ingin berbagi rasa ingin tahu yang sudah lama menyimpan di dalam hatinya. Tanpa berkata apa-apa, dia berdiri perlahan dan pergi meninggalkan Kak Amel sendirian dengan tumpukan parcel dan buku catatannya. Air mata sudah mulai menggenang di sudut matanya, namun dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak menangis. Dia tidak ingin orang lain melihatnya menangis di malam yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur.

***

Fitri berjalan perlahan ke arah kebun kecil di belakang panti asuhan, tempat dia selalu berlindung ketika merasa sedih atau bingung. Kebun itu penuh dengan berbagai jenis bunga—melati, mawar, dan kembang sepatu yang tumbuh subur di bawah naungan pohon jambu biji yang besar. Di sudut paling dalam kebun, ada sebuah batu besar yang selalu menjadi tempatnya duduk ketika dia ingin sendirian. Dia duduk di atas batu itu, menyandarkan punggungnya pada batang pohon, dan menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang yang berkilauan.

“Langit yang luasnya, bisakah kamu memberiku jawaban?” ucap Fitri dengan suara yang hampir tak terdengar, sambil mengusap air mata yang mulai mengalir ke pipinya. “Siapa ayah dan ibuku? Mengapa mereka meninggalkanku? Apakah aku tidak cukup baik untuk mereka? Mengapa aku tidak pernah merasakan hangatnya pelukan mereka seperti teman-teman di panti yang masih punya keluarga?”

Bintang-bintang di langit tampak seperti sedang menatapnya dengan tatapan yang penuh kasih sayang. Angin malam bertiup lembut, menyentuh rambutnya yang sedikit berantakan, seolah ingin menghibur dan mengatakan bahwa dia tidak sendirian. Fitri mengangkat tangannya ke atas, seolah ingin menyentuh bintang-bintang yang tampak begitu dekat namun begitu jauh. Dia membayangkan bahwa salah satu dari mereka adalah ayah atau ibunya yang sedang menontonnya dari surga, memeluknya dengan cinta yang tak pernah pudar meskipun mereka tidak bisa bertemu di dunia ini.

“Kalau kamu ada di sana, tolong beritahu aku ya… Aku hanya ingin tahu bagaimana wajahmu. Apakah aku mirip denganmu? Apakah kamu juga merindukanku seperti aku merindukanmu?” kata Fitri sambil menangis dengan suara yang terkekeh-kekeh. Air matanya jatuh ke tanah, menyiram rerumputan yang hijau segar di sekitar batu tempat dia duduk. Di malam Takbiran yang penuh dengan kegembiraan, dia merasa seperti orang tersendiri yang terasing dari dunia luar—sebuah anak kecil yang hanya ingin tahu asal-usul dirinya dan cinta yang seharusnya dia terima dari orang tuanya.

Sementara itu, Kak Amel yang sudah selesai menghitung parcel merasa ada yang tidak beres. Hatinya terasa berat seperti batu bata yang dipikul di pundaknya. Dia menyadari bahwa kata-katanya tadi kepada Fitri terlalu kasar dan tidak perlu. Fitri hanya seorang anak kecil yang ingin tahu tentang orang tuanya—sesuatu yang wajar bagi setiap anak yang tumbuh tanpa cinta orang tua. Kak Amel segera mencari Fitri ke seluruh bagian panti, namun tidak menemukannya di mana pun. Akhirnya, dia mengingat bahwa Fitri selalu pergi ke kebun kecil ketika dia merasa sedih.

***

Kak Amel berjalan cepat ke arah kebun, hatinya semakin khawatir ketika dia melihat sosok kecil yang duduk di batu besar dengan pundaknya yang sedikit menggoyangkan-goyangkan karena menangis. Dia berhenti beberapa langkah dari Fitri, melihatnya dengan mata yang penuh rasa bersalah dan kasih sayang. Dia tahu bahwa dia harus meminta maaf kepada Fitri—tidak hanya karena membentaknya tadi, tetapi juga karena tidak pernah benar-benar memperhatikan perasaan kecil gadis itu yang selalu tampak kuat dan ceria di depan teman-temannya.

“Fitri…” panggil Kak Amel dengan suara yang lembut dan penuh perasaan.

Fitri terkejut dan segera mengusap air matanya dengan bagian belakang tangannya. Dia tidak ingin Kak Amel melihatnya menangis. Tanpa menoleh, dia berkata, “Maaf Kak Amel… Aku tidak sengaja mengganggumu tadi. Aku hanya penasaran saja… Tidak apa-apa kok, aku sudah baik-baik saja.”

Kak Amel mendekatinya dan duduk di sebelahnya di atas batu besar itu. Dia menarik Fitri ke pelukannya dengan lembut, menyentuh kepalanya yang kecil dengan pipinya. Air mata mulai mengucur dari matanya juga—rasa bersalah dan cinta yang menyatu membuat hatinya terasa seperti akan hancur berkeping-keping.

“Maafkan aku, Fitri… Aku sangat menyesal telah membentakmu tadi,” ucap Kak Amel dengan suara yang bergetar karena emosi. “Aku sedang tergesa-gesa dan stres karena khawatir parcelnya tidak cukup, tapi itu bukan alasan untuk aku berbicara kasar padamu. Kamu punya hak untuk bertanya tentang ayah dan ibumu—hak yang tidak bisa aku atau siapapun hindari.”

Fitri akhirnya berbalik dan menangis dengan bebas di pelukan Kak Amel. Dia menjepit pinggang kakak perempuan yang dia anggap sebagai kakak kandungnya dengan erat, melepaskan semua kesedihan dan rasa tidak berharga yang sudah lama menyimpan di dalam hatinya.

“Kenapa aku tidak punya ayah dan ibu, Kak Amel? Apakah aku tidak pantas untuk dicintai?” tanya Fitri dengan suara yang masih bergetar.

Kak Amel mengelus punggungnya dengan lembut, menepuk-nepuk perlahan seperti seorang ibu yang sedang menghibur anaknya. “Tidak seperti itu, Fitri… Kamu sangat pantas untuk dicintai. Ayah dan ibumu pasti mencintaimu dengan sangat dalam hati mereka. Mungkin mereka punya alasan yang tidak bisa mereka katakan, yang membuat mereka harus meninggalkanmu di sini. Tapi kamu harus tahu bahwa kamu tidak sendirian—kita semua di panti ini adalah keluargamu. Aku adalah kakakmu, teman-temanmu adalah saudaramu, dan semua orang yang bekerja di panti ini mencintaimu seperti kamu adalah anak kandung mereka.”

***

Keduanya terdiam sebentar, menikmati kedamaian malam Takbiran yang semakin dalam. Suara takbir masih terdengar dari kejauhan, menyatu dengan gemericik air sungai yang mengalir tidak jauh dari kebun. Langit yang penuh dengan bintang-bintang tampak semakin indah dan damai, seolah memberikan kesaksian akan janji cinta yang tidak pernah pudar.

“Lihatlah bintang-bintang itu, Fitri,” kata Kak Amel sambil mengangkat tangannya ke atas, menunjuk pada langit yang luas. “Setiap bintang mewakili cinta seseorang yang ada di dunia ini atau di surga. Mungkin salah satu dari mereka adalah ayah atau ibumu yang sedang memandangmu dan berdoa agar kamu selalu bahagia dan sehat. Mereka mungkin tidak bisa berada di sisimu secara fisik, tapi cinta mereka selalu mengelilingimu seperti udara yang kamu hirup setiap hari.”

Fitri menatap langit dengan mata yang sudah mulai tenang. Dia merasakan kehangatan pelukan Kak Amel dan kata-katanya yang penuh kasih sayang membuat hatinya merasa lebih ringan. Mungkin dia tidak akan pernah tahu dengan pasti mengapa ayah dan ibunya meninggalkannya, namun dia mulai menyadari bahwa cinta tidak selalu harus datang dari orang tua kandung. Cinta bisa datang dari mana saja—dari teman-teman, dari orang yang merawatnya, dan dari semua orang yang benar-benar peduli padanya.

“Kak Amel, maafkan aku juga ya… Aku tidak sengaja membuatmu khawatir,” ucap Fitri dengan suara yang sudah kembali tenang.

Kak Amel tersenyum dan menepuk pipinya dengan lembut. “Tidak apa-apa, sayang. Kita saling memaafkan ya. Sekarang, ayo kita kembali ke rumah ya? Anak-anak lain sedang menunggu kita untuk ikut kelompok takbir. Dan besok pagi, kita akan membagikan parcel bersama-sama. Kamu mau membantu aku kan?”

Fitri mengangguk dengan senyum yang mulai muncul di wajahnya. Dia merasakan bahwa beban yang selama ini dia pikul sendirian sudah mulai berkurang. Meskipun rasa ingin tahu tentang orang tuanya masih ada di dalam hatinya, dia sudah bisa menerima bahwa keluarga tidak selalu harus berdasarkan darah—keluarga adalah orang-orang yang selalu ada di sisimu dalam suka maupun duka, yang mencintaimu apa adanya.

Keduanya berdiri dan berjalan bersama-sama keluar dari kebun, tangan Kak Amel menyandarkan erat pada pundak Fitri yang kecil. Lampu bohlam di halaman panti masih menyala terang, menyambut mereka dengan cahaya yang hangat. Suara anak-anak yang sedang riang gembira semakin jelas terdengar, membawa kegembiraan malam Takbiran yang begitu menyenangkan.

Ketika mereka bergabung dengan kelompok anak-anak yang sedang bersiap untuk berangkat, Fitri melihat langit sekali lagi. Dia tersenyum pada bintang-bintang yang berkilauan, merasa bahwa ayah dan ibunya memang sedang melihatnya dari sana. Mungkin suatu hari nanti dia akan tahu semua jawaban yang dia cari, namun untuk saat ini, dia merasa cukup bahagia dengan keluarga baru yang dia miliki di Rumah Kasih Sayang. Malam Takbiran tahun ini telah memberinya pelajaran berharga tentang cinta, pengampunan, dan makna keluarga yang sesungguhnya—sesuatu yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya.[]

Probolinggo, Maret 2026

Penulis : Khairul A. El Maliky, novelis, esais dan cerpenis kelahiran kota Probolinggo, 1986. Bukunya yang telah terbit di antaranya, Akad, Salwa Azis, Pintu Tauhid, Sweet Girl, dll. Buku-bukunya bisa didapatkan di Gramedia.

Post navigation