LITERASI JATIMTIMES – Tempat itu bernama kelas. Sebuah ruang yang yang berukuran 6×7 meter persegi. Di sana terbentang luas permadani bermotif abstrak. Terdapat dua meja bundar tempat para siswa berdiskusi, serta whiteboard yang penuh coretan mimpi-mimpi mereka. Dari tempat sederhana ini, para siswa tidak hanya belajar berhitung atau pun belajar berbahasa. Mereka juga merangkai ide, merajut setiap angan, dan menyemai nilai-nilai kehidupan mereka. Bahkan mereka juga belajar tentang persahabatan, kerja sama, tanggung jawab, dan keberanian menjadi diri sendiri. Di sanalah tempat cerita kecil bermula. Kadang ada tangis yang mendera, kadang ada tawa yang menyala.
Ada yang berbeda ketika aku memberanikan diri untuk memasuki ruang kelas, baik dari cara berfikir maupun bertindak. Dulu, tak pernah tergambar dalam benakku jika aku akan menjadi seorang guru. Dalam bayangku, aku ingin berbeda dengan kedua orang tuaku yang berprofesi sebagai guru. Aku hanya memimpikan menjadi budak corporate. Namun, kekuatan doa ibu mengalahkan segalanya. Ibuku pernah berkata bahwa beliau akan sangat meridhoi anak-anaknya jika mau mengabdikan diri di madrasah, menjadi seorang guru. Kini aku mencintai profesiku sebagai guru, bahkan madrasah tempatku mengabdi dengan sepenuh hati.

Aku pernah menyangka bahwa menjadi guru berarti menyampaikan ilmu, mencetak prestasi, dan menjalankan tugas negara. Tapi ternyata, di balik papan tulis yang penuh noda spidol dan bangku-bangku kayu yang menyimpan jejak tinta dan coretan masa lalu, aku menemukan versi terbaik diriku. Menemukan pelajaran yang tak tercatat dalam silabus mana pun, pelajaran tentang keikhlasan. Apalagi ketika menjadi wali kelas yang harus konsisten menemani anak-anaknya selama tiga tahun. Membersamai setiap tumbuh kembang fisik dan emosional siswa di masa remaja dengan karakter yang beraneka ragam, layaknya komponen komputer yang setiap harinya mengajakku untuk berfikir komputasional.
Kelas perwalianku selama tiga tahun belakangan ini berisi 24 anak didik yang semuanya Perempuan. Mereka menghias dinding kelas dengan potret diri mereka yang selalu diterangi oleh cahaya impian dari celah jendela. Tak banyak yang istimewa, tapi aku selalu datang ke sana dengan langkah ringan penuh semangat dan kepala penuh harap. Kami menyiapkan rencana, mengukir cerita, dan kerinduan, serta pelukan hangat disetiap harinya. Memenuhi setiap ruang kosong dalam diri mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Ketika mengajar di kelas, aku kira cukup dengan membawa strategi pembelajaran yang aku pelajari dari pengalaman almarhum ayah ketika mengajar Aswaja di SMA. Aku siapkan materi dengan baik. Merancang proses pembelajaran dengan sistematis. Lalu mencetak gambar-gambar berwarna agar anak-anak bersemangat. Aku persiapkan Ice Breaking yang menarik sambil mambayangkan wajah mereka yang ceria. Tapi ternyata mereka tak seramah harapanku. Sebagian diam, sebagian tertidur, dan satu dua malah sibuk menggambar karakter di pojok lembar kerja mereka. Apakah materinya sulit? Apakah pembelajarannya membosankan? Apakah semua ini sia-sia? Pertanyan-pertanyaan tersebut menjadi kabut dalam pikiranku. Namun aku tersadar, aku hanya perlu mendengarkan. Karena tidak semua ekspresi ketidaktertarikan adalah sebuah penolakan. Terkadang diam adalah senjata paling tulus ketika mereka menerima pembelajaran. Dari situ, aku berusaha menyeimbangkan antara kurikulum dan kebutuhan emosional siswa. Aku berusaha memahami ketika mereka tertidur, mungkin semalam mereka membantu pekerjaan orang tua hingga larut. Aku mencoba menahan amarah ketika mereka tidak mengumpulkan tugas, mungkin ada perut kosong yang belum terisi karena tak ada makanan di rumah sehingga mereka sulit untuk konsentrasi. Aku memilih duduk di samping mereka untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Tak ingin menjadi guru yang keras tapi melukai. Tak ingin menjadi guru yang lunak tapi melemahkan. Tak berpihak selain pada kebaikan.

Proses inilah yang juga membawaku untuk memahami bahwa sejatinya setiap siswa ingin dimengerti perasaannya, dipahami setiap langkahnya, dilayani setiap ragam gaya belajarnya. Di tengah keberagaman itu aku belajar tasamuh. Sebuah kelapangan hati yang tak bisa dinalar dengan hitungan bilangan sistem komputer. Aku belajar membuka ruang, memberi maaf, dan menanam pengertian bahwa toleransi bukan menghapus perbedaan, tapi merayakannya dalam kedewasaan.
Cerita istimewaku tak berhenti pada interaksi siswa di kelas saja, tapi juga dengan wali siswa yang kadang muncul di depan kelas secara tiba-tiba. Mereka bisa menembus batas dinding ruangan dan papan tulis. Menembus lorong-lorong sekolah hingga ke depan ruang kepala sekolah, tempat di mana kadang drama yang tak terduga muncul. Mereka datang membawa harapan, kecemasan, bahkan tuntutan. Mereka pun hadir dengan keunikannya masing-masing.
Ada yang selalu turut serta dalam persilihan anak dengan temannya, memperbesar perkara sederhana menjadi sebuah konflik yang harus disidangkan. Tak segan-segan berteriak menyuarakan amarah. Seakan lupa bahwa guru ini sedang menjaga marwah pendidikan untuk anak-anaknya. Ada yang menganggap bahwa guru adalah manusia sempurna layaknya dewa. Tidak boleh salah dalam bertindak. Jika itu dilanggar, maka akan viral. Beberapa memilih untuk tak mau ikut aturan dan program sekolah. Lebih memilih membawa standar mereka sendiri, menjadikan sekolah sebagai tempat yang harus tunduk pada kehendak pribadi. Ada saja gebrakan mereka untuk mengasah ketajamanku dalam menganalisa masalah, sehingga harus didekomposisikan agar mudah terselesaikan.
Namun, di antara semua itu, tak sedikit juga yang menyentuh hati. Wali siswa yang datang dengan ketulusan, memercayakan anaknya tanpa curiga, dan menyadari bahwa saat mereka tak di sisi sang anak, gurulah yang menjadi orang tua kedua. Mereka, para wali siswa telah menjadi bagian penting dalam perjalanan profesiku, guru yang terus belajar dari ruang-ruang interaksi yang tak pernah sederhana.
Peranku sebagai guru, bukan hanya mengisi rubrik penilaian pada lembar kerja excel saja. Bukan pula hakim yang memutuskan secara mutlak setiap tindakan benar dan salah yang siswa lakukan. Aku harus terus berusaha memegang teguh nilai i’tidal. Sebuah nilai yang menjunjung tinggi keadilan. Adil bukan berarti disamaratakan, tidak pula diistimewakan, dan juga tidak ada yang dikucilkan. Para siswa harus dihargai setiap proses belajarnya, bukan hanya hasil akhirnya. Karena sejatinya ini bukan perlombaan, melainkan perjalanan untuk tumbuh bersama secara adil.
Kelasku memang tampak sangat sederhana. Tapi bagi mereka yang pernah mengisinya, kelasku adalah saksi tumbuhnya mimpi, perjuangan, dan ikatan yang tak mudah dilupakan. Setiap karakter kehidupan ada di sini. Di ruang kelas inilah setiap pribadi mulai ditempa, karakter dibentuk, dan cita-cita perlahan diarahkan.
Hari-hariku di kelas mungkin melelahkan, tapi aku ikhlas. Ikhlas itu bukan berarti berhenti berjuang. Ikhlas adalah tetap hadir meski tak disebut. Ikhlas adalah tetap membimbing meski tak dipuji. Ikhlas adalah mengajar dengan hati yang penuh, bukan dengan gengsi yang kosong. Kini aku paham, bahwa menjadi guru adalah tentang menanam tanpa harus melihat bunga mekar esok hari. Mungkin mereka akan lupa nama dan wajahku, tapi aku percaya, sebagian kecil dari caraku menyapa, menegur, membimbing, tersenyum, dan menjelaskan akan tetap hidup dalam cara mereka mencintai, bermimpi, dan berjuang. Dari kelas yang sederhana ini, aku belajar ikhlas. Dari keikhlasan itulah, aku merasa menjadi guru yang sesungguhnya.
Penulis : Syafa’atul Maulida, merupakan pengajar di MTs NU Pakis.

