Ibu Pergi Saat Sesalku Mematahkan Benciku

LITERASI JATIMTIMES – Jam menunjukkan pukul 03.40. Dering alarm dari ponselku terus memaksaku membuka mata karena bisingnya. Sesekali aku mendengar suara ayah membangunkanku untuk sahur. Kucoba melepas selimut yang meninabobokkan dalam kehangatan malam. Suara rintik gerimis terdengar jelas karena atap rumahku terbuat dari seng besi yang mulai berkarat.

“safira…. ayo bangun, ini udah mau imsyak loh….”

Tangan ayahku merangkul pundakku yang lemas. Bukan karena aku terlalu banyak makan saat buka puasa. Beberapa hari ini aku tidak enak badan karena terkena hujan saat pulang sekolah. Aku terlahir dengan penyakit autoimun sejak lahir. Ayah lah yang selalu ada untukku.

“iya ayah, fira kuat kok…..” sahutkku sambil trsenyum. Aku tahu bahwa senyumku akan melegakan hatinya yang sedang kalut saat aku dalam kondisi drop seperti sekarang.

“wah, ayah bikin mie sedap soto kesukaanku….. terima kasih ayah…”

“sama-sama fira…. “sahut ayahku sambil menunduk dan tibatiba menangis lirih. “maafin ayah ya nak, kita hanya bisa sahur dengan mie instan…. maaf…”

Kupeluk ayahku seraya berkata “gak pa2 ayah….. fira sangat bersyukur sekali bisa sahur bareng ayah…..”. Aku pun larut dalam kesedihannya. Aku tahu ayah pasti belum digaji oleh haji Soleh, juragan selep padi karena gabahnya belum layak di giling karena kondisi hujan yang turun berhari-hari.

Ayah tiba-tiba menyeka air matanya dan tersenyum seraya berkata “ehhmmm, ah…sudahlah, maaf ayah sudah membuat fira ikut menangis…”

“oh iya, ayah besok udah gajian loh…. kita beli sepatu barumu yachhh…???”

“tidak usah ayah, uangnya disimpan dulu … Fira rasa sepatu Fira msh nyaman digunakan…..” jawabku sambil tersenyum menghiburnya. Sepatuku memang rusak, sol sepatu di ujung sebelah kanan menganga seolah mengejekku.

“udah, gak pa pa…. besok ayah belikan ya nak… oh iya, jangan lupa diminum gih obatnya”. Aku pun mengangguk sambil menenggak obat yang menjadi ketergantunganku pada kondisiku.

“yakin mau lanjut puasa nih…? yakin gak mokel…?“ kata ayahku meledek. “ihhh ayah, gak kira lah. Aku kan udah gede….“ jawabku sambil tertawa.

“hmmm, sudah adzan subuh…. yuuk kita berjamaah”

“baik ayah…”jawabku ringan

Setelah perbincangan itu kami pun melaksanakan aktifitas kami masing-masing seperti biasanya. Pagi itu aku diantar ayah pondok romadhan di sekolahku yaitu SMP 1 Banyu Putih yang berjarak 4 kilo meter dari rumahku. Pagi iu tidak sepertinya ayah tergesa-gesa menarik gas supra fit hitam kesayanganya.

“pelan-pelan saja ayah…” kataku sambil memegang erat pinggangnya. ”ayah agak ngebut nih, ayah mau menjemput seseorang yang spesial siang ini. Jadi ayah mau masuk sift pagi sekali…” jawabnya sambil tersenyum.

Aku agak curiga melihat raut wajah ayah yang sumringah. Ah sudahlah, mungkin ayah mau menjemput pak lek candra di terminal. Beliau adalah salah satu adik ayah yang tinggal di Madiun yang sudah beberapa tahun tak bertemu.

Selanjutnya setelah mengantarku, ayah langsung menuju ke selep padi haji Soleh yang berjarak hanya 600 meter  dari sekolahku. Seperti biasa, hari ini aku memulai dengan tadarus pagi mushollah sekolah.

“hai Safirah cantik….. gimana kondisimu, udah sehat kan?” panggil seseorang yang ternyata sahabaku sejak di bangku SD.

Perkenalkan, namanya Rindu.

“alhamdulillah beb, udah sehat lagi nih….”jawabku tersenyum

“kita semua kangen kamu loh…. gak seru kalau gak ada kamu” “heh, udahan kangen-kangennya kan!!!” tiba-tiba suara itu menyela ditengah obrolan kami. Aku pun menoleh, ternyata itu suara Windi. Salah satu anak komite sekolahku yang kaya raya. Menurut info yang beredar, kekayaan ayah Windi melebihi haji Soleh sang juragan selep padi di kecamatan kami.

“jangan mentang-mentang anak pinter kamu sok sok an Fira. Ingat, pinter bukan segalanya….!!”sahutnya ketus

“kamu apa-apaan sih Win, gak bosen tah kamu bully Safira tiap hari. Kalau kamu iri, ya bersaing dong. Jangan sering kamu pojokin Safira “ kata Rindu ketus sambil membusungkan dada pada Windi.

“ih apaan sih, kamu mau belain dia. Makan tuh bestiemu….” Windi lantas pergi berpindah tempat duduk. Aku pun mulai menangis lirih.

“sudahlah Fira… gak usah masukin dihati. Orang miskin seperti kita harus kuat, harus sabar…” Rindu memelukku yang larut dalam tangis. Aku pun menyeka air mataku sambil tersenyum pahit. Aku tahu aku harus kuat, aku harus sukses kelak demi membahagiakan diriku dan tentunya ayahku, super hero dalam hidupku.

Waktu pun berlalu dan saatnya jam pulang pondok romadan. Aku dan Rindu berjalan keluar sekolah melewati sepanjang jalan Banyu Putih yang panas dan gersang. Maklumlah tempat tinggal kami yang berbatasan dengan hutan baluran akan terasa panasnya jika musim kemarau. Ramadan kali ini benar-benar istimewa karena cuaca sangat terik. Seolah menggoda kami untuk mokel, hehehehe, ya tidaklah. Aku dan Rindu terbilang anak yang rajin ibadah, gak mungkin mokel.

Setelah melewati gan sebelah rumahku, akupun berpisah dengan Rindu yang kebetulan rumahnya berada 200 meter dari rumahku. Aku berhenti sejenak, ntah kenapa hati ini kok merasa tidak nyaman. “Ada apa nih…?” ujarku dalam hati. Aku acuhkan perasaanku sambil masuk kedalam rumah. Sebenarnya aku ingin mengucapkan salam, tapi tiba-tiba terdengar suara perempuan yang tak asing bagiku.

“kenapa      masih     keras     kepala….?”     suara     perempuan.

“emang kenapa kalo aku keras kepala….. seharusnya biar aku saja yang pergi sejak dulu…!!!” sahut ayahku dengan nada tinggi.

Aku tahu itu suara perempuan yang dulu ku sebut sebagai ibu. Sosok yang telah kusumpah serapahi karena telah meninggalkan aku dan ayah selama 6 tahun tanpa kabar. Emosiku tak tertahan dan memaksaku mauk dalam medan konflik orang dewasa tanpa kupikir panjang akibatnya kemudian.

“sudah…. cukuuup… !!!” teriakku histeris sambil menangis “kenapa ibu pulang..? kenapa bu?…. tidak usah membentak ayahku…”

“Fira, kamu jangan kurang ajar sama ibumu !! cepat minta maaf…!” ujar ayahku sambil berdiri dari tempat duduknya karena kaget akan kehadiranku yang mendadak.

“maafkan ibu Fira…. maaf nak… bukan maksud ibu untuk….” sahut ibuku sambil terisak. Perempuan itu pun mendekatiku sambil meraih tanganku yang mengepal keras karena tidak kuasa menahan perasaan antara marah dan benci. Kutepis tangannya sebagai tanda protesku atas kenyataan yang ada didepanku. Aku tidak kuat lagi, ku berbalik badan. Aku berlari ke dalam kamarku dengan tangis kebencian yang tak mungkin orang lain paham.

“Fira, tunggu…. Fira…” panggil ayahku sambil mengejar hingga ke depan pintu kamar yang kututup.

Ntah berapa lama aku tertidur. Kepalaku pening rasanya. Saat ku buka mataku, sayup sayup terdengar suara di sebelahku. “Fira bangun nak, kamu belum berbuka puasa… ini hampir syak loh…” ternyata ibu yang membangunkanku. Sontak aku kaget bercampurmarah. Ya, marah yang kutahan. Aku hanya memandangnya sejenak dan ku langsung beranjak dari tempat tidurku tanpa menanggapinya. “masa bodoh…” sahutku dalam hati. Kuberjalan mendekati meja makan di dapur. Setelah berdoa, ku teguk segelas teh yang masih hangat. Ku lihat ayahku telah berganti pakaian gamis karana akan berangkat sholat taraweh. Ayah terlihat tersenyum kearahku lalu menghampiriku sambil mengelus kepalaku.

“masih marah sama ibu…?” tanya ayahku

Aku hanya mrengut saja tanpa menjawab pertanyaannya. Aku makan dengan rakusnya seperti babi kesetanan. Hemmmm, ternyata orang ngambek itu bikin laper. Sementara itu, ibu hanya duduk di ujung lain meja makan. Wajahnya merah padam antara haru atau apalah yang ku yakini seperti mencari perhatianku saja dengan menampilkan raut kesedihannya. Sesekali ibu tersenyum tipis yang makin membuatku langsung hilang selera makanku.

Sumpah, aku merasa badmood beberapa hari ini. Selalu bertemu dengan ibu yang sok akrab tanpa merasa bersalah karena pergi menghilang bertahn-tahun.

“Ya Allah, seandainya boleh kuminta pada-Mu jauhkanlah ibu dariku…” celotehku gak sengaja. Saat ayahku mengajakku berbicara tentang ibu, aku selalu menghindar dengan membisu dan memasang wajah masa bodoh. Jika aku pergi saat ayah bicara atau orang tua siapapun maka aku salah, aku berdosa.

Tak terasa lebaran tinggal 3 hari lagi. Seperti biasa, aku nyekar ke makam kakek nenekku d pemakaman umum di desaku. Biasanya aku berangkat bersama ayah tapi aku bernisiatif berangkat sendirian k akam. Sudah tahu dong kenapa ?

Sesampainya di pemakaman ku berdoa didepan makam kakek nenekku. Tiba-tiba ada salah satu peziarah makam yang mendekatiku

“maaf dik, kamu anaknya mas Prapto ya ?” bapak itu bertanya “i..i…iya om… Om kok kenal ayaku ? om siapa? “ jawabku pelan sambil menjaga jarak, kuatir saja jika dia mau bersikap tidak sopan.

“saya Bayu, panggil saja om Bayu. Saya temen main ayahmu sejak SMP hingga dia menikah dengan Yanti, ibumu…”.

“oh iya om…”

“wah… Yanti udah pulang ya…. seneng dong pastinya kamu “.

Aku hanya merespon dingin pertanyaannya. Sepertinya om Bayu paham ekskpresiku, tangannya tiba-tiba menyentuh pundakku.

“dik, om paham kenapa kamu cemberut seperti itu… kalau boleh om Bayu jujur, ibumu itu wanita kuat dan hebat “ ujar om Bayu sambil menghela nafas dalam

Hebat apanya, kataku dalam hati.

“nih om Bayu ceritain dikit nih…. dulu itu saat kamu masih kecil, om bayu dan ayahmu adalah rekan bisnis. Salah satunya jual beli kambing. Suatu saat ayahmu ditipu rentenir hingga 160 juta yang memaksa usaha kami bangkrut. Ayahmu dikejar peternak kambing yang meminta uang atau kambingnya dikembalikan. Setiap hari pula ayahmu bertengkar dengan ibu. Hingga ayahmu jatuh sakit. Ibumu tak tega melihat ayahmu seperti itu, hingga akhirnya ibumu pergi diam-diam bekerja di Taiwan meski sebelumnya tak mendapat restu ayahmu…” om Bayu bercerita dengan sesekali menghela nafas.

Deg, tiba-tiba aku merasa ditampar keras oleh om Bayu. Semua rahasia yang terkuak setelah mendengar pertengkaran siang tadi. Sesuatu yang tabu dan mungkin aib bagi ayah ibuku yang ditutup bertahun-tahun. Aku baru paham mengapa ayah selalu menasehatiku untuk tidak pernah membenci ibu. Aku menangis sejadi-jadinya. Ternyata ibuku………

“om, adik pamit pulang yach….” pamitku seraya  menyeka air mataku. Om Bayu hanya terseyum dalam sambil memegang pundak kiriku.

Jam telah menunjukkan 23.27 , sesekali aku abaikan dering panggilan ayah dan ibu yang sejak tadi berisik menyeruak diantara tangis sesalku. Sesampainya dirumah, ibuku langsung memeluku dengan.

“Fira sayang, kamu dari mana saja nak..? kamu gak kenapa-napa kan?“ tanya ibuku sambil menagis. Aku hanya terdiam menangis…Ya Allah, aku tak bisa berkata-kata apapun. Aku hanya ingin meminta maaf padamu bu, tapi tidak bisa. Mulutku tersumbat dan nafasku tersengal menahan rasa sesal. Sementara ayah hanya bisa memeluk kami.

Beberapa hari berlalu, ya hari ini sudah memasuki ramadan hari ke 25. Aku senang sekali karena hari ini yah akan mengajakku berbelanja kebutuhan lebaran. Aku sudah lama menunggu moment hari ini. Ayah berjanji akan membelikanku sepasang gaun gamis cantik berwarna hijau toska dengan motif bunga favoritku. Sebelum berangkat aku merasa ada yang kurang, tapi apa ya? Ah sudahlah, pikirku. Akhirnya dengan menaiki sepeda vario aku berboncengan dengan ayah. Kami belanja kebutuhan learan di KDS Situbondo yang kebetulan lagi ada promo ramadan. Tiga jam lamanya kami berputar sana sini sampai terasa pegel sendi kakiku, seneng sih bisa belanja dengan ayah hari ini tapi sekali lagi rasa tidak nyaman itu muncul. Dan spontan, ibu terlintas di kepalaku. Aku pun beranikan melawan egoku untuk bertanya pada ayah.

“yah, ibu tidak ikut kita belanja?” tanyaku pelan

Ayah tiba-tiba tertegun dengan pertanyaanku dan menoleh kearahku. “sini Fira, duduk disebelah ayah….” sahutnya sambil mematikan rokok kretek kesukaannya.

“gimana, Fira suka dengan baju yang dibeli..? beberapa kebutuhanmu juga sudah dibelanjakan” tanya ayah.

“senang dong ayah. Makasih ya ayah….” kataku.

“alhamdulillah, tapi  ucapan terima kasihmu paling layak jika kamu sampaikan langsung pada ibumu. Kamu tahu berapa sih pendapatan ayah. Mana mungkin kita bisa belanja sebanyak ini Fira….” ayah menjelaskan dengan menghela nafas dalam. “iya ayah…. aku menyesal atas tidakan Fira kepada ibu. Fira mau minta maaf tapi….. “

“tapi kamu masih marah pada ibumu ya kan…?”

Aku tertunduk tersipu. “ayah, ibu kemana tidak ikut ?”

“maaf ayah lupa memberitahumu. Ibu tadi pagi mendadak harus kembali ke Taiwan. Mister Tan juragannya ibumu sakit stroke karena terjatuh dikamar mandi. Ibumu titip uang belanja kita serta titip maaf untukmu…”

Pecah kantung air mataku, mengalir deras di pipiku. Aku tak kuat menahan luapan emosi karena rasa bersalahku. Tangisku lirih membelah hati orang di sekitarku yang melihatku.

“ibu…. ibu….. maafin Fira..” tangisku.

 

Ayah memelukku erat. “maafin ayah Fira… maafin ayah….. Ayah tidak jujur padamu selama ini…”.

“iya ayah, Fira sudah… sudah tahu dari om Bayu. Tapi kenapa ayah tidak jujur selama ini pada Fira ?”.

“maafin ayah Fira, ayah saat itu berada di posisi yang sangat sulit. Namun ayah…… “. Tiba tiba pembicaraan kami terpotong dengn sebuah nada dering panggilan hapeku. Kulihat dan deg, ternyata ibu menelpon.

“ibu… maafin Safira….. maaf Safira terlalu egois mengukum ibu dalam diri Fira sendiri….”.

“maafin ibu juga nak… ibu yang salah, maaf ibu tidak disampingmu selama ini….”jawab ibu sambil terisak di dalam hape.

“ibu pulang…. pulang bu…. Fira mau peluk ibu…. Ampuni

Fira…”.

“iya sayangku, kamu akan selalu ibu maafkan. Tapi ibu juga minta maaf karena kembali pergi. Ijinkan ibu kembali untuk merawat Mister Tan hingga sembuh ya sayang. Ibu senang sekali akhirnya Safira mau bicara pada ibu….”.

“iya bu…. ayo pulang bu…. pulang…..”.

“jaga diri Fira ya nak…. doain ayah dan ibu nak, 2 tahun lagi ibu pulang nak. Jadilah anak shoehah ya nak, manut sama ayahmu…. jangan lupa ayahmu disuruh minum obat ya… “.

“ibuuuu….” panggilan hapeku terhenti .

Semenjak kepergian ibu, aku selalu duduk diteras rumah di kala senja. Sambil berdoa ibu akan pulang. Aku semakin tenggelam dalam sesalku yang menjadi.

“ibu, pulanglah ibu….”.

Penulis : Kenang Priagung Cahyono, Merupakan Guru SMPN 1 Kendit.

Post navigation