LITERASI JATIMTIMES – Pagi itu, cahaya matahari masuk pelan melalui jendela-jendela besar ruang kelas X-1 SMA Negeri 1 Ngoro, Mojokerto. Dinding kelas tampak segar dengan cat baru dan kutipan-kutipan motivasi berbahasa Inggris terpajang rapi. Suasana kelas terasa penuh harapan dan rasa penasaran. Hari pertama sekolah telah tiba, dan lima siswa baru duduk dengan wajah-wajah yang campur aduk antara gugup dan penasaran.
Di depan kelas berdiri Pak Kasiadi, guru Bahasa Inggris yang dikenal karena pembelajaran yang menyenangkan. Dengan senyum yang ramah, ia menyapa, “Selamat pagi, semuanya! Saya Pak Kasiadi. Di kelas ini, kita akan belajar dengan prinsip 3S (Senyum, Sabar, Semangat). Dan cara belajarnya adalah 3I (Inovatif, Interaktif, dan Inspiratif).”
Kelima siswa baru saling melirik Alya, gadis pemalu yang duduk tegak dengan kepangan rapi; Nina, seniman kecil yang suka menggambar di buku; Rani, penuh semangat dan selalu bertanya; Bagas, pendiam tapi pengamat yang tajam; dan Riko, siswa dengan kacamata unik dan kamera kecil yang tergantung di leher.
Di papan tulis, Pak Kasiadi menulis: “Tell me your story.” Siswa-siswa terdiam, bingung. Namun, Pak Kasiadi menjelaskan bahwa mereka tidak sedang diuji, melainkan diminta menceritakan siapa diri mereka dan apa mimpi mereka, dengan kalimat sederhana dalam Bahasa Inggris. Satu per satu siswa mulai berbicara, dengan Bahasa Inggris seadanya, namun penuh ketulusan. Saat Riko berkata, “I want to make video film… with heart,” Pak Kasiadi bertepuk tangan dan berkata, “Luar biasa! Jika kita berbicara dari hati, kata-kata sederhana pun bersinar.”
Beberapa hari kemudian, saat istirahat, kelima siswa itu berkumpul di teras kelas. Mereka memainkan permainan belajar bernama Word Whirl, sebuah permainan kartu bergambar untuk membangun kalimat dalam Bahasa Inggris. “The bike is red and it has two tires,” kata Alya. Rani menyemangatinya, dan Nina tertawa. Mereka terlihat nyaman dan berani mencoba. “Aku suka kelas ini,” ujar Nina. “Biasanya pelajaran Bahasa Inggris bikin deg-degan.” Bagas mengangguk setuju. “Tapi Pak Kasiadi bikin kita merasa aman. Salah pun tetap dihargai.”
Tak lama, Pak Kasiadi datang membawa minuman dingin. “Siap English break?” sapanya. “English only!” tantang Riko, disambut tawa teman-temannya. Mereka pun berbincang ringan dalam Bahasa Inggris. Saat ditanya, “What’s your favorite word today?”, Alya menjawab, “Hope.” Ia mengatakan, ia membaca kata itu dari kutipan di dinding kelas. “Hope adalah benih dari setiap mimpi,” kata Pak Kasiadi. “Dan Bahasa Inggris adalah taman tempat kita menanamnya.”
Pada hari Jumat, mereka mengikuti sesi English in Action di kantin sekolah. Tantangan hari itu adalah memesan makanan menggunakan Bahasa Inggris. “I’d like a bowl of meatball, please,” kata Rani percaya diri. “And one ice tea, no sugar,” sambung Nina. Bagas iseng berkata, “You’re sweet enough already,” membuat semua tertawa. Bahkan Alya berani membalas, “Hati-hati, Bagas, Bahasa Inggrismu bikin jatuh hati.” Suasana belajar terasa hidup, penuh tawa, namun bermakna.
Sambil menikmati makanan, Pak Kasiadi bertanya, “Bagaimana perasaan kalian tentang Bahasa Inggris sekarang?” Riko menjawab, “Dulu rasanya seperti pintu tertutup. Sekarang seperti lensa kamera. Aku bisa lihat lebih banyak.” Alya berkata, “Masih takut, tapi sekarang aku mau mencoba.” Pak Kasiadi tersenyum dan berkata, “Mau mencoba adalah kata paling kuat dalam bahasa apa pun.”
Minggu demi minggu berlalu. Kelas X-1 berubah menjadi ruang belajar yang penuh semangat. Dinding kelas dipenuhi poster buatan siswa, puisi Bahasa Inggris, dan hasil karya kreatif lainnya. Prinsip 3S (Senyum, Sabar, Semangat) menjadi napas pembelajaran. Metode 3I (Inovatif, Interaktif, Inspiratif) menghidupkan suasana kelas. Alya kini lebih berani. Nina menulis puisi Bahasa Inggris pertamanya. Rani aktif dalam debat Bahasa Inggris. Bagas menulis cerita pendek, dan Riko membuat film pendek dokumenter tentang pengalaman mereka belajar Bahasa Inggris.
Yang mereka pelajari bukan hanya bahasa, tapi rasa percaya diri, kerja sama, dan keberanian untuk bermimpi. Dan semua itu dimulai dari seorang guru yang menyambut mereka dengan senyum, kesabaran, dan semangat tulus setiap hari: Pak Kasiadi.
Seperti yang selalu diucapkan, “Pelajaran dimulai dengan senyum, tapi semangat kalianlah yang akan menulis akhirnya.”
Penulis: Kasiadi, Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Ngoro, Mojokerto.

