LITERASI JATIMTIMES – Di ruang perabotnya lapuk ditengara musim
menanam garis-garis putih
pada birai saban warsa berganti orientasi.
Belum sempat akar verbal menghunjam
langit kelabu mengirim badai segar
pindahkan kiblat.
Peta yang sedia di meja sengaja tak ditamatkan
sebab bunglon-bunglon tujuh rupa bermunculan.
Membayangi sampai pusat koordinat
lalu dipaksa putuskan ekor
lantaran fajar berikutnya menghadang
pegang sketsa peta yang direstorasi.
Kuncup-kuncup pagi tumbuh liar di bawah hujan semburat biru
telaga mungilnya lebih hangat
berselancar layar—enggan berkedip—
daripada petuah yang mencoba berlabuh.
Di tirai mimpi mereka dunia berlari cepat
sementara aku berdiri pada jam dinding
yang jarumnya tetap setia pada detak.
Di luar pagar gelegar lebih cepat radar daripada nalar
api kecil mudah disulut remang-remang
segan menjelma burung langka
enggan hinggap di bahu-bahu pewaris zaman.
Selain, sedia payung tipis menahan hujan batu
dalam teduh puja restu tak tersiarkan.
Limpah hati nyanyian orkestra yang diputar pelan
sementara memikul beban menjulang
tetapi gunung lupa pada lembah
aku tetap menyibakkan pintu
sebab sepasang mata
menyimpan tanya
‘benih menunggu tanah’.
Kadang aku berbahasa dengan debu
yang singgah di ujung kuku.
“Apakah jejak sekecil ini
berpeluang menjadi jalan?”
sebelum arti, Bayu menghapus setengah kalimatku.
“Tak semua terang sebagai matahari;
sebagian lahir serpih putih tampak remeh, namun setia menyangkal gelap”.
Jejak kapur di tengah beliung:
mudah pudar berlipat kembali.
di antara riuh pemberontakan
sapenggal hati memungut debu beterbangan
menjadikannya bintang
di langitnya sendiri.
Papan terus bersih,
garis hilang sebelum pagi—
cahaya tak tunduk.
Lamongan, 2026 (Oleh: Dwi Priyo Cahyono Hadi)
Tentang Penulis : Saya guru sekolah dasar yang mencintai dunia menulis, terutama puisi. Beberapa karya saya meraih juara dalam lomba luring dan daring, serta dimuat dalam berbagai buku antologi puisi karya para pemenang. Menulis bagi saya adalah cara berbagi rasa, gagasan, dan inspirasi.

