LITERASI JATIMTIMES – Pagi itu, mentari belum sepenuhnya menampakkan diri, namun hiruk pikuk di SMA Negeri 1 Ngoro Mojokerto sudah mulai terasa. Bukan dari suara lonceng atau derap langkah siswa, melainkan dari aktivitas tiga sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu mengawali hari lebih dulu.
Bapak Saiful, satpam SMA Negeri 1 Ngoro, sudah berdiri tegak di depan gerbang utama, seragam dinasnya rapi, tatapan matanya awas mengamati setiap sudut. Udara pagi yang sejuk menusuk kulit tak sedikit pun mengurangi semangatnya. Di tangannya, sebuah sapu lidi panjang bergerak lincah membersihkan dedaunan kering yang semalam gugur dari pohon angsana raksasa di pinggir jalan. Senyum ramah selalu tersungging saat sesekali ada warga yang lewat dan menyapa.
“Pagi, Pak Saiful!” sapa seorang bapak pengendara sepeda motor yang melintas.
“Pagi juga, Pak! Hati-hati di jalan ya,” balas Bapak Saiful dengan suara berat namun ramah. Tidak lama kemudian, suara mesin blower terdengar dari arah taman. Itu Bapak Seger, tukang kebun sekolah yang selalu bersemangat, meski rambutnya sudah memutih dan punggungnya sedikit membungkuk. Ia dengan telaten membersihkan sisa-sisa daun kering yang mengotori jalan setapak menuju gerbang. Aromaterapi alami dari tanah basah dan tanaman yang baru disiram memenuhi udara.
Dari kejauhan, terlihat sosok Ibu Suminah, petugas kebersihan sekolah, dengan troli berisi peralatan kebersihannya. Langkahnya ringan, meski usianya sudah tidak muda lagi. Tangannya sigap mengambil sampah yang berserakan di sekitar pos satpam, memastikan tidak ada satu pun sampah yang luput dari perhatiannya.
Tak lama, satu per satu motor dan sepeda mulai berdatangan. Itu para siswa kelas X yang sudah mulai berdatangan lebih awal.
“Assalamualaikum, Pak Saiful!” sapa Rina, siswi kelas X-1 dengan motor matic-nya. “Waalaikumsalam, Rina. Pagi-pagi sudah semangat ya,” jawab Bapak Saiful sambil membukakan gerbang sedikit lebih lebar.
“Iya dong, Pak. Biar nggak telat,” sahut Budi, teman Rina, yang juga baru datang.
Bapak Saiful hanya tersenyum tipis, menatap mereka berdua dengan tatapan bangga.
Baginya, melihat siswa-siswi bersemangat belajar adalah salah satu kebahagiaan tersendiri.
Suara berisik motor dan sepeda mulai mendominasi area parkir sekolah. Para siswa berbondong-bondong memarkirkan kendaraannya dengan rapi. Bapak Seger, setelah selesai membersihkan taman di depan, kini beralih ke area parkir. Ia sibuk menyapu sisa-sisa ranting kecil dan tanah yang terbawa ban motor. Sesekali ia menegur siswa yang parkir sembarangan dengan suara lembut.
“Nak, itu motornya agak dimajukan sedikit ya, biar nggak menghalangi jalan,” kata Bapak Seger kepada Rio, siswa kelas X-3 yang sedang sibuk memarkirkan motornya.
“Eh, iya, Pak. Maaf, Pak,” jawab Rio sambil tersipu.
Bapak Seger tersenyum. “Nggak apa-apa, Nak. Biasakan parkir yang rapi ya, biar enak dilihat dan nggak bikin susah orang lain.”
Di sisi lain, Ibu Suminah sedang membersihkan tempat sampah di sudut parkiran yang sudah mulai penuh. Ia mengeluarkan kantong sampah yang sudah terisi penuh dan menggantinya dengan yang baru. Bau tak sedap yang awalnya menyeruak, kini perlahan menghilang. Ia bekerja tanpa banyak bicara, namun gerakannya sangat efisien.
Rombongan siswa kelas X-2, termasuk Sarah dan Dimas, melewati area parkir. Mereka melihat Bapak Seger dan Ibu Suminah yang sedang bekerja.
“Gila, Pak Seger sama Bu Suminah udah kerja dari subuh kali ya?” bisik Dimas pada Sarah. “Kayaknya sih iya, Mas. Bapak sama Ibu itu nggak pernah berhenti kerja. Salut banget aku,” timpal Sarah.
Mereka berdua merasa sedikit malu karena sering kali masih mengeluh saat harus bangun pagi untuk sekolah, sementara Bapak Seger dan Ibu Suminah sudah berjuang jauh lebih awal. Bel masuk sebentar lagi berbunyi. Koridor kelas X sudah ramai dengan celotehan siswa yang saling bercanda dan mempersiapkan diri. Di depan kelas X-4, Bapak Saiful terlihat sedang mengatur barisan siswa yang hendak masuk. Ia mengingatkan mereka untuk merapikan seragam dan menyiapkan buku pelajaran.
“Ayo, Risa, kerudungnya dibetulkan dulu. Dan kamu, Doni, bajunya dimasukkan, ya,” kata Bapak Saiful sambil tersenyum.
Risa dan Doni dengan sigap mengikuti arahan Bapak Saiful. Mereka tahu, Bapak Saiful memang disiplin, tapi juga sangat perhatian pada siswa-siswinya.
Tidak jauh dari situ, Ibu Suminah sedang membersihkan lantai koridor yang sedikit kotor karena bekas sepatu. Tangannya cekatan mengelap setiap noda, memastikan lantai bersih kinclong. Aroma cairan pembersih tercium samar, memberikan kesan segar. Beberapa siswa yang melihatnya buru-buru mengangkat kaki agar tidak menghalangi pekerjaan Ibu Suminah. “Bu, sini saya bantu,” tawar Fajar, siswa kelas X-4, sambil mencoba mengambil kain pel dari tangan Ibu Suminah.
Ibu Suminah tersenyum ramah. “Nggak usah, Nak Fajar. Ini sudah tugas Ibu. Kalian fokus belajar saja ya.”
Meskipun ditolak, Fajar merasa kagum dengan ketulusan Ibu Suminah. Ia menyadari bahwa di balik kebersihan sekolah, ada kerja keras dan keikhlasan yang luar biasa.
Pelajaran olahraga sedang berlangsung di lapangan. Terik matahari siang tak menyurutkan semangat siswa kelas X-5 yang sedang bermain futsal. Keringat membasahi seragam mereka, namun tawa dan teriakan semangat tetap terdengar. Di pinggir lapangan, Bapak Seger terlihat sedang memangkas rumput yang mulai meninggi di sekitar gawang. Alat pemangkas rumputnya mengeluarkan suara bising, namun Bapak Seger tak bergeming. Ia tetap fokus pada pekerjaannya, memastikan rumput di lapangan selalu terawat.
Salah satu bola futsal tiba-tiba melambung tinggi dan jatuh mengenai tumpukan rumput yang baru saja dipangkas oleh Bapak Seger.
“Aduh, maaf, Pak Seger!” seru Arya, siswa yang menendang bola.
Bapak Seger hanya tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Nak. Hati-hati ya mainnya.” Ia kemudian mengambil bola dan mengembalikannya kepada Arya.
Arya merasa tidak enak. Ia melihat bagaimana Bapak Seger bekerja di bawah terik matahari, mengolah rumput yang kadang membuat gatal, namun tetap melakukannya dengan senyum dan ketulusan. Ini adalah bentuk pengabdian yang nyata.
Jam istirahat tiba. Kantin sekolah langsung diserbu siswa dari berbagai kelas, termasuk siswa kelas X. Suara riuh rendah percakapan dan sendok garpu beradu memenuhi ruangan. Di tengah keramaian itu, Ibu Suminah terlihat mondar-mandir. Ia tidak makan siang, melainkan sibuk membersihkan meja-meja yang kotor dan mengumpulkan piring-piring bekas pakai. Gerakannya cekatan, memastikan kantin tetap bersih dan nyaman bagi para siswa.
“Bu, mau dibantu bawa piringnya?” tanya Nadia, siswi kelas X-6 yang sedang makan bakso bersama teman-temannya.
“Wah, makasih banyak, Nak Nadia. Tapi biar Ibu saja. Kalian nikmati saja makan siangnya ya,” jawab Ibu Suminah.
Meskipun demikian, Nadia dan teman-temannya memutuskan untuk meletakkan piring kotor mereka di tempat yang sudah disediakan dengan rapi, berusaha meringankan pekerjaan Ibu Suminah. Mereka sadar, kebersihan kantin bukan hanya tanggung jawab Ibu Suminah, tapi juga tanggung jawab bersama. Melihat Ibu Suminah yang bekerja tanpa henti, bahkan saat jam istirahat, membuat mereka semakin menghargai kerja kerasnya.
Scene 6: Di GOR – Siang Hari
Sore menjelang. Beberapa siswa ekstrakurikuler basket masih berlatih di Gelanggang Olahraga (GOR). Keringat membanjiri tubuh mereka, namun semangat kompetisi tetap membara. Di luar GOR, Bapak Saiful sedang patroli rutin. Ia memeriksa setiap pintu dan jendela, memastikan semuanya terkunci rapat. Ia juga sesekali menyapa siswa yang masih berada di GOR.
“Semangat latihannya, Nak!” seru Bapak Saiful kepada Genta, kapten tim basket.
“Siap, Pak!” balas Genta dengan napas terengah-engah.
Tiba-tiba, lampu GOR berkedip-kedip dan akhirnya mati. Suasana langsung gelap gulita, membuat para siswa terkejut.
“Waduh, mati lampu!” teriak salah satu siswa.
Tanpa pikir panjang, Bapak Saiful segera bergegas ke panel listrik. Dengan cekatan, ia memeriksa sakelar dan segera memperbaikinya. Tak lama, lampu GOR kembali menyala terang. Para siswa bersorak kegirangan.
“Makasih banyak, Pak Saiful!” seru mereka serentak.
Bapak Saiful hanya tersenyum. “Sama-sama, Nak. Hati-hati ya, jangan sampai tersandung.” Ia tak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memastikan fasilitas sekolah berfungsi dengan baik demi kenyamanan siswa
Ruangan aula yang tadinya bersih dan rapi, kini sedikit berantakan setelah digunakan untuk rapat OSIS. Kursi-kursi sedikit bergeser, dan beberapa kertas bekas rapat berserakan. Bapak Seger, yang baru saja selesai menyiram tanaman di halaman belakang, kini beralih ke aula. Ia dengan sabar merapikan kursi-kursi yang bergeser, menumpuknya dengan rapi di sudut ruangan. Lalu, ia menyapu lantai yang kotor, memastikan tidak ada sisa kotoran yang tertinggal.
Di sudut lain, Ibu Suminah sedang membersihkan meja dan kursi yang digunakan untuk rapat. Ia mengelap setiap permukaan meja dengan teliti, menghilangkan jejak noda atau debu. Sesekali ia mendesah pelan, namun tangannya tak berhenti bekerja.
Beberapa siswa anggota OSIS, termasuk Ardi dan Vita dari kelas X, yang tadi ikut rapat, merasa tidak enak melihat Bapak Seger dan Ibu Suminah bekerja.
“Duh, Bu, Pak, maaf ya, jadi merepotkan,” kata Ardi.
“Nggak apa-apa, Nak Ardi. Ini sudah tugas kami,” jawab Bapak Seger ramah.
Vita kemudian berinisiatif membantu mengangkat beberapa kursi yang lebih ringan. “Sini,
Bu, saya bantu angkat. Bapak juga, Pak, biar cepat selesai.”
Bapak Seger dan Ibu Suminah sedikit terkejut, namun tersenyum melihat inisiatif para siswa. Momen itu menjadi pengingat bahwa kerja keras dan keikhlasan mereka tidak luput dari perhatian, dan justru menginspirasi orang lain untuk ikut berbuat kebaikan.
Pulang sekolah. Gerbang sudah dibuka lebar, dan satu per satu siswa mulai meninggalkan sekolah. Di depan kantor guru, Bapak Saiful masih berdiri tegap, mengawasi setiap siswa yang keluar. Ia memastikan tidak ada siswa yang bolos atau melakukan tindakan yang tidak semestinya. Senyumnya tetap ramah, namun tatapannya tetap awas.
“Hati-hati di jalan ya, Nak! Sampai jumpa besok!” seru Bapak Saiful kepada rombongan siswa kelas X-7 yang baru saja keluar gerbang.
“Siap, Pak Saiful! Sampai jumpa!” balas mereka serempak.
Di sampingnya, Bapak Seger sedang memotong dahan pohon yang menjuntai di depan kantor guru, memastikan tidak mengganggu akses jalan. Ia bekerja dengan hati-hati, memastikan tidak ada dahan yang jatuh menimpa orang.
Tak lama kemudian, Ibu Suminah keluar dari kantor guru setelah membersihkan ruangan. Ia menyapu teras depan kantor guru yang sedikit kotor, memastikan bersih sebelum semua pulang.
Tiba-tiba, seorang guru, Bapak Bayu, menghampiri mereka. “Bapak Saiful, Bapak Seger, Ibu Suminah, terima kasih banyak ya untuk hari ini. Sekolah jadi bersih dan aman berkat kerja keras kalian.”
Ketiganya hanya tersenyum simpul, rasa bangga tersirat di wajah mereka. Pujian dari guru adalah penghargaan tersendiri atas dedikasi mereka.
Ruangan Tata Usaha (TU) sudah sepi. Hanya tersisa beberapa staf TU yang sedang merampungkan pekerjaannya. Bapak Saiful, setelah memastikan gerbang sekolah aman, kini melakukan patroli terakhir di seluruh ruangan. Ia memeriksa setiap kelas, laboratorium, perpustakaan, hingga ruang TU. Ia memastikan semua lampu padam dan pintu terkunci rapat. Saat masuk ke ruang TU, ia melihat Ibu Suminah sedang membersihkan lantai. Meskipun semua staf sudah pulang, Ibu Suminah masih bekerja. Lantai ruang TU terlihat mengkilap berkat sapuan dan pel-nya.
“Bu Suminah, belum pulang?” tanya Bapak Saiful.
“Belum, Pak Saiful. Ini tinggal sedikit lagi,” jawab Ibu Suminah dengan napas sedikit terengah.
Bapak Saiful mengangguk. “Ya sudah, kalau begitu hati-hati ya, Bu. Jangan sampai kecapekan.”
Tidak lama setelah Bapak Saiful keluar dari ruang TU, Bapak Seger masuk. Ia baru saja selesai menyiram semua tanaman di pot yang ada di koridor dan sekitar kantor.
“Bu, sudah selesai?” tanya Bapak Seger.
“Alhamdulillah, sudah, Pak,” jawab Ibu Suminah sambil meletakkan alat pelnya.
Mereka berdua saling bertatapan, senyum puas terpancar di wajah keduanya. Meskipun lelah, ada kebahagiaan tersendiri yang terpancar dari mata mereka. Kebahagiaan karena telah menyelesaikan tugas dengan baik, dengan ikhlas, dan tanpa mengeluh.
Di luar ruangan TU, terlihat seorang siswa bernama Wisnu, siswa kelas X-8 yang sedang menunggu jemputan. Ia memperhatikan Bapak Saiful, Bapak Seger, dan Ibu Suminah yang masih bekerja. Dalam hati, ia merasa sangat bersyukur memiliki mereka di sekolahnya. Mereka adalah contoh nyata dari arti Kerja Keras Tanpa Batas, Kerja Ikhlas Tanpa Malas. Wisnu berjanji pada dirinya sendiri, mulai besok, ia akan lebih menghargai setiap sudut sekolahnya, lebih menjaga kebersihan, dan yang paling penting, belajar lebih giat lagi. Karena ia tahu, di balik setiap inci kebersihan dan keamanan sekolah, ada peluh, keringat, dan keikhlasan dari para pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Penulis: Kasiadi, merupakan Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Ngoro, Mojokerto

