LITERASI JATIMTIMES – Ramadhan datang seperti cahaya yang lembut, tetapi bagi Arka, ia terasa seperti hitungan mundur. Tiga puluh hari menuju Lebaran, tiga puluh hari menuju penentu hidupnya.
Beasiswa itu.
Satu-satunya jalan keluar dari rumah sempit di ujung gang, dari ayah yang semakin sering batuk hingga tubuhnya gemetar, dari ibu yang menyembunyikan tagihan listrik di balik kalender bekas.
Arka menulis targetnya di kertas yang ditempel di dinding kamar:
LULUS SEBELUM LEBARAN.
Setiap sahur, ia menatap tulisan itu seperti menatap masa depan. Setiap azan magrib, ia mengulang doa yang sama: Ya Allah, cukupkan aku dengan jalan yang halal. Namun hidup sering kali menguji doa dengan cara yang tidak terduga.
***
Hari ke-9 Ramadhan.
Ujian seleksi beasiswa tinggal seminggu lagi. Soal-soal latihan menumpuk di meja. Matanya merah, kepalanya berat. Ia tetap belajar setelah tarawih, meski listrik di rumahnya sempat padam karena tunggakan.
Ayahnya duduk di kursi rotan, napasnya berat. “Arka,” katanya pelan, “kalau kamu lelah, istirahatlah Nak. Jangan memaksakan diri.”
Arka menggeleng. “Kalau aku tidak lulus, kita yang akan lebih lelah, Yah.”
Ayah tersenyum, tetapi senyum itu seperti kertas tipis yang mudah robek.
Malam itu, saat Arka hendak tidur, ponselnya bergetar. Pesan dari Dimas, teman sekelasnya.
Bro, aku punya bocoran soal. Asli. Dari kakak kelas yang jadi panitia. Mau?
Jantung Arka berdetak lebih cepat.
Ia menatap layar lama sekali.
Puasa membuat tubuhnya lemah, tetapi pesan itu seperti gula yang tiba-tiba masuk ke aliran darah. Ini kesempatan, bisik sesuatu di dalam dirinya. Ini ujian, bisik yang lain.
Ia mengetik: Serius?
Balasan datang cepat. Serius. Semua orang juga pakai. Kalau kamu tidak, kamu kalah sendiri.
Arka meletakkan ponsel. Ia berdiri, mengambil air wudu, lalu salat dua rakaat. Dalam sujud, ia berdoa, tetapi doa itu terasa berat, seperti tersangkut di tenggorokan.
Ya Allah, aku hanya ingin lulus.
Namun keinginan itu mulai terdengar seperti tuntutan.
***
Hari ke-15 Ramadhan.
Arka menerima file soal, kemudian iamembukanya dengan tangan gemetar. Jawaban-jawaban itu begitu jelas, begitu mudah. Seolah masa depan telah dituliskan dengan tinta hitam yang pasti.
“Ia tahu ini salah….. Ia tahu ini curang…. Tetapi ia juga tahu ayahnya butuh obat, ibunya butuh harapan” gumam dalam hatinya
“Sekali ini saja,” bisiknya.
“Ini demi mereka.”
Kalimat itu terasa seperti pembenaran yang hangat. Ia memeluknya seperti selimut di malam dingin.
***
Hari ujian tiba.
Arka duduk di ruang kelas dengan wajah tenang. Soal yang ia buka terasa seperti déjà vu. Semua sama. Semua mudah. Ia mengerjakan dengan cepat, rapi, tanpa ragu. Di luar jendela, matahari Ramadhan bersinar lembut. Di dalam dirinya, sesuatu mulai meredup.
***
Seminggu kemudian, pengumuman keluar.
Namanya ada di peringkat pertama. Ibu menangis bahagia….. Ayah memeluknya dengan tangan yang gemetar….. Tetangga datang mengucapkan selamat…. Masjid mengumumkan prestasinya setelah salat tarawih.
Arka tersenyum.
Semua tampak sempurna.
Ia merasa berhasil.
Ia merasa menang.
Akan tetapi ia merasa… kosong.
***
Malam ke-27 Ramadhan.
Masjid penuh. Orang-orang berburu Lailatul Qadar. Arka berdiri di saf depan, tetapi hatinya seperti berdiri di luar tubuhnya. Imam membaca ayat tentang kejujuran. Tentang amal yang tidak akan tersembunyi.
Arka menunduk. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Ia teringat file itu.
Ia teringat alasan yang ia ulang-ulang seperti mantra.
Ia teringat target di dinding: Lulus sebelum Lebaran.
Ia telah lulus.
Tetapi apakah ia telah sampai?
Sujudnya terasa panjang malam itu. Untuk pertama kalinya sejak pengumuman, ia menangis. Tangisan itu sunyi, tetapi berat. Seperti sesuatu yang lama ia tahan akhirnya runtuh.
“Ya Allah… aku takut keberhasilan ini tidak Engkau berkahi”. Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan setelah itu, ia tahu: ia tidak bisa hidup dengan rahasia ini.
***
Keesokan paginya, Arka datang ke sekolah.
Langit Ramadhan berwarna pucat. Udara terasa lebih jernih dari biasanya. Ia menuju ruang panitia seleksi. Tangannya dingin, tetapi langkahnya mantap.
“Pak,” katanya pelan kepada ketua panitia, “saya ingin mengaku.”
Ruangan itu sunyi.
Ia menceritakan semuanya. Tentang file. Tentang ketakutan. Tentang alasan yang ia kira benar. Setelah selesai, ia menunduk.
Kemudian ia berkata “Silakan batalkan beasiswa saya pak”. Kata Arka mantap.
Kalimat itu seperti pisau yang ia arahkan ke dirinya sendiri. Namun anehnya, dadanya terasa lebih lapang.
Ketua panitia menatapnya lama. Tidak marah. Tidak terkejut. Hanya diam. Lalu berkata “Kenapa kamu mengaku sekarang?” tanya beliau.
“Karena saya ingin lulus dengan cara yang benar,” jawab Arka. “Walaupun meski terlambat.”
Ruangan itu kembali sunyi. Detik terasa seperti jam.
Akhirnya, ketua panitia berkata pelan, “Kamu memang melakukan kesalahan. Tapi tidak banyak orang yang berani mengaku sebelum diminta.”
Arka mengangkat kepala.
Harapan kecil bergetar di dadanya.
“Kami akan mendiskualifikasi nilai ujianmu,” lanjut beliau. “Namun… kami juga memiliki beasiswa lain. Beasiswa integritas. Untuk siswa yang menunjukkan kejujuran dan keberanian.”
Arka terpaku.
Ia tidak langsung mengerti.
“Kamu mungkin tidak lulus sebelum Lebaran seperti targetmu,” kata beliau, “tetapi kamu lulus dari ujian yang lebih penting.”
Air mata Arka jatuh lagi.
Kali ini terasa ringan.
***
Lebaran tiba.
Rumah Arka masih sederhana. Ayahnya masih batuk. Tagihan masih ada. Namun suasana terasa berbeda.
Setelah salat Id, Arka menempelkan kertas baru di dinding kamarnya. Ia mencoret tulisan lama. Lalu menulis: LULUS DENGAN BERKAH. Ia menatap tulisan itu lama.
Ramadhan telah mengubahnya. Bukan hanya sebagai siswa, tetapi sebagai manusia. Ia belum mencapai semua yang ia impikan. Namun ia telah menemukan arah yang benar. Dan untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, ia merasa benar-benar apa itu arti kelulusan sebenarnya.
Penulis : Ahmad Neval Fiansyah, merupakan siswa SMKS PGRI Sumbermanjing.

