LITERASI JATIMTIMES – Dalam ruang kelas yang tampak tenang, sering tersembunyi dinamika yang tidak sederhana. Ada guru yang tampak lelah, kehilangan semangat mengajar, dan ada pula murid yang sulit diatur, gaduh, bahkan cenderung menantang aturan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mana yang lebih berbahaya, guru yang malas atau murid yang nakal. Namun, sebelum menjawabnya secara tergesa, perlu disadari bahwa pendidikan bukanlah arena untuk saling menyalahkan, melainkan ruang untuk memahami, memperbaiki, dan bertumbuh bersama.
Jika dilihat sepintas, guru yang malas tampak berbahaya karena ia memegang kendali pembelajaran. Guru adalah fasilitator, pengarah, sekaligus inspirator. Ketika peran ini tidak dijalankan secara optimal, proses belajar menjadi kering, tidak bermakna, bahkan kehilangan arah. Di sisi lain, murid yang nakal juga sering dianggap mengganggu ketertiban kelas, menghambat pembelajaran, dan memengaruhi teman sebayanya.
Namun, membandingkan keduanya dalam kerangka siapa yang lebih berbahaya sesungguhnya bukanlah pendekatan yang bijak. Sebab, baik guru maupun murid adalah bagian dari sistem yang saling memengaruhi. Ketika satu elemen mengalami masalah, maka elemen lainnya pun akan terdampak. Dalam konteks ini, lebih penting untuk memahami akar persoalan daripada menentukan siapa yang harus disalahkan.
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak anak. Artinya, pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pengembangan potensi. Guru bukan sekadar pengajar, melainkan penuntun. Sementara murid bukan objek pasif, melainkan individu yang sedang tumbuh dengan segala dinamika psikologisnya.
Dalam pandangan ini, guru yang tampak malas mungkin sedang menghadapi kelelahan emosional, tekanan administrasi, atau kurangnya dukungan sistem. Beban kerja yang tinggi, tuntutan kurikulum, serta minimnya penghargaan sering membuat guru kehilangan motivasi. Hal ini bukan berarti perilaku tersebut dapat dibenarkan, tetapi perlu dipahami sebagai gejala dari persoalan yang lebih luas.
Di sisi lain, murid yang dianggap nakal sering kali adalah anak yang sedang mencari perhatian, mengalami kesulitan belajar, atau menghadapi masalah di lingkungan keluarga. Kenakalan bisa menjadi bentuk ekspresi dari kebutuhan yang tidak terpenuhi. Dalam hal ini, perilaku murid bukanlah sekadar pelanggaran, melainkan sinyal yang perlu dibaca dengan empati.
Jika ditarik lebih dalam, persoalan guru malas dan murid nakal sering kali berakar pada kurangnya hubungan yang bermakna di dalam kelas. Ketika relasi antara guru dan murid bersifat kaku dan formal, maka komunikasi menjadi terbatas. Murid enggan terbuka, dan guru sulit memahami kondisi murid secara utuh. Akibatnya, muncul jarak yang memperbesar potensi konflik.
Sebaliknya, ketika hubungan dibangun atas dasar saling menghargai dan kepercayaan, maka suasana kelas menjadi lebih hidup. Guru dapat menjadi sosok yang dekat tanpa kehilangan wibawa, dan murid merasa nyaman untuk belajar tanpa tekanan berlebihan. Dalam kondisi ini, label malas dan nakal perlahan akan memudar, karena yang muncul adalah interaksi yang lebih sehat.
Kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh interaksi antara guru dan peserta didik. Interaksi yang positif akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, sementara interaksi yang negatif akan menghambat proses pembelajaran. Oleh karena itu, fokus utama seharusnya adalah memperbaiki kualitas interaksi, bukan memperdebatkan siapa yang lebih berbahaya.
Lalu, bagaimana solusi atas persoalan ini?
Pertama, perlu adanya penguatan dukungan bagi guru. Guru membutuhkan ruang untuk berkembang, baik melalui pelatihan, komunitas belajar, maupun apresiasi yang layak. Ketika guru merasa dihargai dan didukung, motivasi untuk mengajar akan meningkat. Selain itu, pengurangan beban administratif yang berlebihan juga penting agar guru dapat lebih fokus pada proses pembelajaran.
Kedua, pendekatan pembelajaran perlu lebih fleksibel dan kontekstual. Murid saat ini hidup di era yang berbeda, dengan akses informasi yang luas dan gaya belajar yang beragam. Guru perlu menyesuaikan metode mengajar agar lebih menarik dan relevan. Pembelajaran yang monoton sering menjadi pemicu kebosanan, yang kemudian muncul dalam bentuk perilaku yang dianggap nakal.
Ketiga, pentingnya pendekatan psikologis dalam memahami murid. Setiap murid memiliki latar belakang yang berbeda, sehingga tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Guru perlu memiliki kepekaan untuk membaca kondisi emosional murid. Dalam hal ini, kerja sama dengan orang tua dan konselor sekolah menjadi sangat penting.
Keempat, membangun budaya sekolah yang positif. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga lingkungan sosial yang membentuk karakter. Ketika budaya sekolah menekankan pada nilai nilai seperti saling menghargai, tanggung jawab, dan kerja sama, maka perilaku negatif akan berkurang secara alami. Budaya ini harus dibangun secara kolektif oleh seluruh warga sekolah.
Kelima, melibatkan murid dalam proses pembelajaran. Ketika murid diberi ruang untuk berpartisipasi, mereka akan merasa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran. Misalnya melalui diskusi, proyek kelompok, atau kegiatan berbasis masalah. Dengan demikian, energi murid yang sebelumnya tersalurkan dalam kenakalan dapat dialihkan menjadi sesuatu yang produktif.
Keenam, refleksi diri bagi guru dan murid. Guru perlu secara berkala mengevaluasi metode dan pendekatan yang digunakan, sementara murid juga perlu dibimbing untuk memahami konsekuensi dari perilaku mereka. Refleksi ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menemukan cara yang lebih baik ke depan.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang mana yang lebih berbahaya antara guru malas dan murid nakal tidak perlu dijawab dengan memilih salah satu. Keduanya adalah bagian dari ekosistem pendidikan yang saling terkait. Ketika satu mengalami masalah, maka yang lain pun akan terdampak. Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan bukanlah mencari pihak yang salah, melainkan membangun sistem yang lebih mendukung bagi semua.
Maka, daripada mempertanyakan siapa yang lebih berbahaya, lebih baik kita bertanya bagaimana menciptakan pendidikan yang lebih baik. Sebab, di balik guru yang tampak malas, mungkin ada kelelahan yang tidak terlihat. Dan di balik murid yang tampak nakal, mungkin ada jeritan yang tidak terdengar. Tugas pendidikan adalah mendengar, memahami, dan menuntun keduanya menuju perubahan yang lebih baik.
Penulis : Muhamad Yusuf, S.Pd. , merupakan guru di SMA Negeri 1 Banjarmasin.

