Curiosity yang Kian Memudar

LITERASI JATIMTIMES – Dalam awal pembukaan tulisan ini, saya ingin mengajak Kisanak untuk flashback sejenak, dulu, sewaktu kita kecil, kita sempat merasakan bahwa setiap hal terasa baru, langit yang begitu luas, hujan yang kadangkala turun secara tiba-tiba, bahkan bayangan diri sendiri pun dapat memancing tanya! Nah, pada masa itu, “bertanya” adalah sebuah tindakan yang bersifat seru dan sangat mengasyikkan. Walhasil, segala sesuatu selalu kita pertanyakan. Sebelum bertanya, tentu ada hal yang mendasarinya, sebuah dorongan yang kerap kita sebut sebagai “rasa penasaran.” Rasa penasaran ini tidak sekadar hadir sebagai reaksi spontan, melainkan sebagai energi awal yang mendorong manusia untuk memahami dunia secara optimal. Ia bekerja seperti kompas kognitif, mengarahkan individu untuk menembus permukaan dan masuk ke dalam lapisan makna yang lebih mendalam, tentunya dapat dilakukan melalui beragam tindakan, bisa membaca buku ataupun berdiskusi dengan orang yang kita anggap sebagai pakar.

Namun belakangan ini, yang terjadi justru sebaliknya. Sebagai contoh, di banyak sekolah, murid masih dapat menghafalkan sesuatu dengan tempo yang sangat singkat dan memang betul adanya, tetapi amat sangat kesulitan dalam menjawab persoalan yang bersifat fundamental, yaitu “5W+1H.” Pertanyaan demikian sungguhlah amat penting, karena di situlah letak awal dari critical thinking, tetapi acapkali dianggap kurang penting. Walhasil, apa yang seharusnya dianggap penting mengalami pergeseran dan tidak terlalu dipikirkan. Pendidikan, yang semestinya menjadi ruang untuk mempertajam nalar, justru kerap terjebak dalam rutinitas pengulangan informasi tanpa pendalaman secara mumpuni, ya, demikianlah adanya.

Di luar kelas pun situasinya juga tidak tampak jauh berbeda, apalagi pada era ini, masyarakat disuguhkan oleh beragam jenis informasi, yang masuk dengan cepat dan dapat diakses dengan begitu mudah. Masyarakat, acapkali sekadar membaca headline-nya saja, tanpa betul-betul menelaah substansi yang ada di dalamnya. Dengan kondisi yang demikian, masyarakat kerap merasa “sudah tahu,” padahal, yang muncul adalah rasa puas yang bersifat instan, sebuah ilusi pengetahuan yang menipu kesadaran. Seolah-olah telah memahami sesuatu, padahal sekadar tahu permukaannya saja, tanpa pernah menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya.

Dari sini, saya mulai menangkap suatu persoalan yang begitu jarang dibicarakan secara komprehensif, yaitu mengenai “rasa ingin tahu yang salah arah.”

Curiosity memang masih eksis, bahkan melimpah ruah. Sayangnya, sebagian besar diarahkan terhadap hal-hal yang tidak konstruktif. Fenomena ini menunjukkan bahwa problemnya bukan pada hilangnya rasa ingin tahu, melainkan pada orientasinya yang mengalami telah mengalami distorsi. Masyarakat kita, bahkan, murid di sekolah, lebih curious dalam mengulik perkara kehidupan orang lain, ketimbang curious terhadap science. Walhasil, masyarakat dan murid kita begitu amat mudah bereaksi, dalam perkara gosip, yang sejatinya adalah perkara murahan. Dalam konteks ini, rasa ingin tahu mengalami degradasi fungsi, dari yang semula menjadi alat eksplorasi pengetahuan, berubah menjadi sekadar konsumsi hiburan.

Energi mental yang seharusnya dapat digunakan untuk kegiatan konstruktif, misalnya membaca buku dan menganalisis, justru dihabiskan untuk mengikuti perkembangan perkara gosip murahan. Padahal, jikalau rasa ingin tahu ini mampu diarahkan dengan benar, ia bisa membuat individu dapat melihat sebuah perkara dengan optimal dan mampu merumuskan solusi yang bersifat relevan. Lebih dari itu, rasa ingin tahu yang terlatih akan melahirkan kepekaan terhadap kompleksitas, sehingga seseorang tidak mudah terjebak dalam kesimpulan yang dangkal. Dalam konteks ini, rasa ingin tahu tidak sekadar dijadikan sebagai sebuah kebiasaan, melainkan boleh jadi sebagai modal untuk menjadi seorang anomali yang mumpuni!

Nah, masalahnya, sistem yang ada pada sekitar kita, tidak mendukung ataupun menyokong untuk melaju ke arah yang demikian. Sistem sosial, baik di sekolah maupun di ruang digital, cenderung memberi insentif pada kecepatan, bukan kedalaman dalam kerja pemikiran  Yang cepat dianggap cerdas dan  yang lambat dianggap tertinggal.

Satu lagi, yang paling krusial, rata-rata, di sekolah kita, murid dihargai semata-mata karena bisa menjawab soal ujian, bukan karena mampu menyusun dan mengajukan sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang terlalu jauh, acapkali dianggap sebagai sebuah hal yang bersifat menyulitkan, bahkan distigma mengganggu alur pembelajaran! Walhasil, banyak yang memilih diam, ataupun bertanya dengan normatif saja. Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan generasi yang patuh secara prosedural, tetapi lemah secara konseptual.

Di ruang maya, mekanismenya lebih terang sekali, yang sensasional, acapkali begitu mudah dalam mendapatkan perhatian. Yang kompleks dan mendalam, justru kerap diabaikan. Algoritma, secara tidak langsung, membentuk preferensi kolektif masyarakat terhadap hal-hal yang instan dan emosional. Dalam kondisi yang demikian, rasa ingin tahu yang sehat kalah bersaing dengan rasa ingin tahu yang instan, Kisanak.

Saya beri penjelasan lebih sederhana, lewat analogi ini, mari bayangkan, kalau rasa ingin tahu itu seperti energi. Artinya, setiap orang punya jumlah terbatas setiap hari. Nah, pertanyaan yang paling fundamental adalah bukan apakah energi itu ada, tetapi energi tersebut habis digunakan untuk apa. Kalau sebagian besar habis untuk hal-hal yang bersifat remeh, maka sudah pasti, tidak banyak yang tersisa untuk memahami hal-hal yang bersifat penting. Analogi ini menegaskan bahwa kualitas pemahaman seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia mendistribusikan sebuah perhatian.

Akibatnya mulai terasa. Diskusi menjadi dangkal. Perdebatan lebih banyak berisi opini tanpa dasar. Informasi mudah dipercaya tanpa verifikasi. Orang sudah merasa paham, padahal belum betul-betul paham. Lebih jauh lagi, kondisi ini membuka ruang bagi berkembangnya disinformasi, karena masyarakat tidak lagi memiliki dorongan kuat untuk menguji kebenaran suatu informasi.

Padahal, dunia yang akan dihadapi ke depan tidak sesederhana itu. Masalah sosial semakin kompleks, disinformasi ada di mana-mana, dan keputusan yang diambil akan semakin menentukan banyak hal. Nah, tanpa rasa ingin tahu yang diarahkan dengan benar, sulit sekali untuk membayangkan bagaimana generasi ini bisa merespons semua itu dengan begitu matang. Tanpa curiosity yang sehat, individu hanya akan menjadi konsumen realitas, bukan penafsir apalagi pengubahnya.

Sebaliknya, generasi yang mampu mengelola curiosity akan memiliki keunggulan yang jauh lebih mumpuni. Sebab, mereka tidak cepat puas terhadap jawaban yang begitu singkat, terbiasa melihat sebuah persoalan dari beragam sudut pandang, serta mampu menghubungkan hal-hal yang tampak tidak berkaitan. Mereka tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga mempertanyakan asumsi di balik jawaban tersebut.

Kisanak, menjadi seperti itu memang tidaklah mudah, butuh konsistensi, energi, dan acapkali amat begitu tidak nyaman. Karena, tidak semua pertanyaan bisa mendapatkan jawaban dengan tempo singkat, sebab proses belajar memang tidak selalu menyenangkan, tetapi disitulah letak asyiknya! Selamat mencoba dan bereksperimen. Barangkali, yang perlu kita mulai bukanlah mencari jawaban yang besar, melainkan membiasakan diri untuk mengajukan pertanyaan yang bersifat fundamental.

Penulis : oleh: A. Galang Wahyudi, merupakan siswa SMAN 1 Kencong.

Post navigation