Tunas

LITERASI JATIMTIMES – Malam di rumah keluarga Pak Surya biasanya bising. Dulu, suara tembakantembakan dari gim daring dan gelak tawa video pendek yang diputar keras-keras memenuhi setiap ruang. Tapi sekarang, sejak pemberlakuan Peraturan Pemerintah tentang Tunas Digital, suasana berubah. Rumah yang dulu riuh itu kini terasa seperti medan perang dingin. Yang tersisa hanya dengungan kipas angin dan ketegangan yang merambat tipis di udara. Rupanya Pak Surya, orang yang peduli dengan aturan memulai sendiri pembatasan gawai di rumah.

“Emil, sudah jam sembilan. Matikan ponselnya.”

Suara Pak Surya lantang, tegas, meskipun matanya tak lepas dari koran digital di pangkuannya. Emil, remaja empat belas tahun dengan kening yang mulai berkerut karena kebiasaan memikirkan banyak hal, mendengus kesal. Emil ini anak cerdas, tech savy , selalu update untuk urusan teknologi informasi terbaru.

“Ayah, tanggung! Lagi seru diskusinya di grup,” suaranya meninggi, jarinya masih sibuk mengetik. “Kenapa sih sekarang semuanya jadi serba dibatasi? Akses medsos dibatasi usia, verifikasi data pakai izin orang tua. Ayah sengaja ya mau memata-matai aku?”

Pak Surya akhirnya meletakkan tabletnya. Ditatapnya Emil lekat-lekat. “Ini bukan soal memata-matai, Le. Pemerintah lewat PP Tunas mewajibkan platform digital melindungi data dan membatasi konten untuk anak di bawah umur. Ayah cuma menjalankan aturan.”

“Aturan itu bikin aku kelihatan kayak anak kecil di depan teman-teman!”

Pintu kamar Emil membanting. Pak Surya menghela napas panjang, mendengar bunyi gesekan sandal yang berlalu di dalam kamar. Rumah kembali sunyi, tapi sunyi yang dingin.

Konflik itu tidak mereda. Malah meruncing setiap hari selama seminggu penuh. Emil semakin pendiam. Wajah yang dulu mudah tersenyum kini sering tertunduk. Tugas-tugas di sekolah mulai tidak dikerjakan, Wali kelasnya mengirim tagihan tugas ke Mamanya. Dan Pak Surya beberapa kali mendapati anaknya mencoba membobol sistem verifikasi pakai identitas palsu. Jelas itu sebuah tindakan berisiko yang justru dilarang keras oleh kebijakan baru itu. Pak Surya cemas, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Terlalu kakukah? Pikirnya.

Keresahan itu sampai ke telinga Bu Lestari, wali kelas Emil. Namun, alih-alih memberi sanksi, Bu Lestari mengirimkan undangan. Ia mengajak Pak Surya ke sekolah. Tak hanya itu, anggota komite sekolah, diantaranya Pak RT dan seorang praktisi literasi digital dari komunitas masyarakat setempat juga ikut diundang. Pertemuan digelar di ruang bimbingan konseling yang asri, dengan pot bunga dan jendela yang menghadap ke lapangan upacara.

“Pak Surya, Emil akhir akhir ini tidak mengerjakan tugas, saat ditanya dia sedang aksi mogok. Dia merasa ruang geraknya terpasung,” Bu Lestari membuka pembicaraan dengan suara lembut tapi tegas. “PP Tunas tujuannya mulia. Melindungi anak dari konten negatif dan penyalahgunaan data. Tapi di rumah, Emil merasa kebijakan ini adalah borgol. Bukan pelindung.”

Pak Surya menghela napas, meletakkan kedua tangannya di pangkuan. “Saya bingung, Bu. Saya hanya ingin dia aman di internet.”

Pak RT menyahut. “Di lingkungan kita juga banyak orang tua yang mengeluh hal yang sama, Pak. Anak saya dan anak-anak lain  merasa dunianya dirampas. Padahal mereka cuma butuh didampingi, bukan dikekang.”

Bu Lestari tersenyum. “Saya punya usul. Bagaimana kalau kita ubah sudut pandangnya? Sekolah akan mengadakan lokakarya Duta Literasi Digital.Saya kira  Emil, yang memang paham teknologi, bisa kita jadikan koordinatornya bersama Pak RT. Bertugas mensosialisasikan PP Tunas ke warga sekitar. Kita beri dia tanggung jawab, bukan sekadar larangan.” Pak Joko, praktisi literasi digital pun mendukung dan siap mendampingi Emil.

Rencana itu berjalan, meski Emil awalnya hanya mengangkat bahu berlagak masa bodoh. Tapi tantangan yang diberikan Bu Lestari, proyek membuat sistem “Internet Sehat Kampung”, membuat alisnya terangkat. Pelan-pelan ia mulai melirik, lalu tertarik, lalu terjun. Ia mulai kerja bareng Pak Joko dan para pemuda di lingkungan RT. Mereka memetakan risiko digital, mencari cara memproteksi diri sesuai standar PP Tunas. Emil jadi sibuk dengan laptopnya, tapi kali ini bukan untuk membobol verifikasi.

Puncaknya terjadi pada hari Minggu satu jam sebelum acara halal bi halal RT dilaksanakan. Memang Pak RT sengaja mensetting waktunya dekat dengan itu agar sosialisasinya maksimal.  Balai warga LKMK penuh sesak. Simulasi keamanan digital siap digelar. Ibu-ibu juga duduks’ di barisan depan membawa gawainya, bapak-bapak menyilangkan tangan penuh perhatian, dan teman-teman sebaya Emil duduk di bangku belakang dengan ponsel masing-masing, tapi kali ini mereka mendengarkan. Bu Lestari pun ikut hadir menyaksikan dan memastikan tugas Emil dikerjakan.

Dan di tengah semua itu, Emil berdiri. Dengan papan laptop terhubung monitor display, ia menjelaskan presentasinya yang disusun bersama Pak Joko. Lancar. Percaya diri. Pak Surya yang datang belakangan memilih berdiri di pintu belakang, tak ingin mengganggu. Matanya tak lepas dari anaknya.

“Jadi gini, Bu, Pak,” ia memulai dengan suara lantang khas remaja yang mulai menemukan keberaniannya. “PP Tunas itu sebenarnya bukan buat ngebatasin kebebasan kita. Bayangin aja, kalau rumah kita nggak punya pintu, siapa pun bisa masuk seenaknya. Nah, data kita itu sama kayak rumah. Makanya PP Tunas mewajibkan platform digital buat masangin ‘pintu’ dan ‘kunci’, jadi data kita nggak gampang dicuri atau disalahgunakan. Aturan verifikasi data pakai izin orang tua itu tujuannya supaya kita nggak sembarangan kasih alamat, nomor KTP, atau informasi pribadi ke orang yang belum tentu bisa dipercaya.”

Emil lalu menggeser slidenya dan menjelaskan gambar diagram sederhana tentang cara kerja perlindungan data. “Sosial media yang sesuai standar PP Tunas itu wajib punya fitur parental control, pembatasan konten sesuai usia, dan nggak boleh jual data anak ke pihak ketiga,” jelasnya sambil menunjuk titik-titik pada diagram. “Jadi bukan berarti kita dilarang main internet, tapi kita diajarin biar pinter milih mana yang aman dan mana yang berbahaya. Teman-teman saya dulu ada yang kena tipu online gara-gara data dirinya bocor, makanya saya pribadi ikut bantu sosialisasi ini. Karena kalau kita paham cara melindungi diri, internet malah jadi tempat seru buat belajar, berkarya, dan berteman, tanpa takut data kita kemana-mana.” Ibu-ibu yang tadinya garuk-garuk kepala mulai mengangguk-angguk paham, sementara teman-teman sebayanya di barisan belakang bersiul kecil memberi semangat. Bu Lestari memberi isyarat jempol, saat Emil melirik ke arahnya. Pak Joko merekam kegiatan itu untuk dibuat konten positif di akun medsosnya.

“Ibu-ibu jadi paham, Mas Emil,” sahut salah satu warga saat Emil minta respon dari penonton. Suasana berbalik tawa. Pak Surya tersenyum kecil. Dibetulkannya letak kacamatanya.

Malam harinya, rumah yang dulu seperti medan perang dingin itu terasa berbeda. Televisi menyala pelan, aroma masakan masih tersisa di ruang tamu. Jam baru menunjukkan pukul sembilan lebih lima menit ketika Emil keluar dari kamar mandi. Dengan gerak alami, ia meletakkan ponselnya di atas meja ruang tamu, lalu duduk di sebelah ayahnya.

“Ayah, maaf soal kemarin,” gumam Emil, matanya menatap lututnya sendiri. “Setelah aku pelajari dengan Pk Joko untuk materi tadi, aku baru sadar. Data kita memang semudah itu disalahgunakan kalau platformnya nggak diatur ketat lewat PP Tunas.”

Pak Surya mengusap pelan rambut anaknya. “Ayah juga belajar dari caramu menjelaskan tadi, Le. Ayah bangga.”  Emil tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, senyum itu lepas, tetapi rasanya ada yang aneh. Lalu ia melangkah masuk ke kamar, membiarkan pintu terbuka sedikit.

Pak Surya masih terduduk di ruang tamu, perasaan hangat mengisi dadanya, ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Bu Lestari.

“Pak Surya, selamat atas keberhasilan Emil hari ini. Oh ya, ada satu rahasia kecil. Emil sebenarnya adalah orang yang pertama kali mengirim pesan  ke saya dua minggu lalu. Ia menyarankan agar sekolah mengadakan sosialisasi PP Tunas karena ia kasihan melihat teman-temannya yang sering terkena penipuan daring. Konflik di rumah kemarin? Itu hanya caranya memancing perhatian Ayah agar mau terlibat dalam proyek ini bersama sekolah.Ngapunten, nggih, Pak?”

Pak Surya tertegun. Ponselnya masih menyala di tangan. Dibacanya pesan itu sekali, dua kali, sampai matanya berbinar. Ada semacam rasa plong di dadaya. Lalu tertawa kecil pelan, ceritanya kena prank nih! Dia  menatap pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu. Dari celah pintu, ia bisa melihat Emil sudah duduk di depan meja belajar, menyusun catatan untuk acara berikutnya. Menoleh ke Pak Surya dan memberi kode bingo dengan jarinya.  Remaja yang ia kira masih butuh diarahkan, ternyata sudah merancang jalannya sendiri. Pak Surya menggeleng pelan, senyum tak mau lepas dari bibirnya. Ternyata, tunas itu tidak hanya tumbuh. Ia sudah lebih dulu dewasa, bahkan sebelum ayahnya sempat menyadarinya.

Surabaya, 28 Maret 2026

 

Tentang Penulis :

Rahmi Andri Wijonarko

Guru SMP Luqman Al Hakim Surabaya

Tinggal di Keputih, Sukolilo  Surabaya

Email: [email protected]

Post navigation