Simfoni Klakson dan Deru Hujan

LITERASI JATIMTIMES – Udara siang yang terasa panas seperti sedang di dalam oven yang sedang dipanggang. Gumpalan awan yang tak berani untuk menampakkan diri, seolah mereka tahu tempat ini terlalu panas untuk didatangi. Matahari bersinar terang dan panas, tak ada yang mampu untukĀ  menghalangi sinarnya. Jalanan kota yang ramai dengan banyak kendaraan yang menunggu lampu hijau. Pengendara motor yang melewati sela-sela hingga tidak ada ruang, jalanan penuh sesak. Pengendara mobil yang hanya dapat sabar karena kendaraan yang ia bawa terlalu besar sehingga tidak dapat melewati sela-sela dengan lincah seperti pengendara motor. Lampu hijau mulai menyala, para pengendara seperti sedang berlomba untuk melewati lampu lalu lintas. Mereka mulai menekan klakson masing masing dan mulai bersahut-sahutan, membuat suasana menjadi semakin ramai dan riuh dengan bunyi klakson masing-masing.

Suara guntur yang pelan namun dapat terdengar oleh para pengendara. Angin mulai berhembus perlahan lahan yang membuat suasana menjadi sedikit sejuk. Gumpalan awan bewarna abu kehitaman datang dengan jumlah yang lumayan banyak. Awan itu mulai bergerak dengan cepat memenuhi langit dan menutupi matahari. Suasana menjadi lebih gelap dan membuat lebih sejuk, para pengendara motor mulai melajukan kecepatannya agar dapat berteduh sebelum hujan akan turun. Tetesan air hujan mulai turun dan siap untuk membasahi kota.

Hujan mulai turun lebih lebat para pengendara motor mau tak mau harus berhenti dan berteduh sesaat untuk memakai jas hujannya. Para pengendara mobil bisa leluasa untuk melajukan mobilnya. Waktu demi waktu berlalu hujan turun semakin deras, jalanan menjadi basah, pandangan para pengendara mulai terganggu, Sungai daan waduk mulai meninggi membuat tanda tanda akan banjir.

Hujan perlahan lahan mulai berhenti, yang awalnya hujan menjadi gerimis dan akhirnya berhenti. Tanaman yang ada di taman kembali menjadi hijau dan tidak layu Kembali. Asap kendaraan seperti hilang setelah di basuh oleh hujan. Suasana menjadi sejuk.

Penulis : Khalilah Alimah Zhafirah, merupakan siswi MTs Mu’allimat Yogyakarta.

Post navigation