LITERASI JATIMTIMES – Kantin SMA 1 Semar selalu ramai diserbu anak-anak saat bel istirahat mulai berbunyi. Anak-anak berebut gorengan sampai bakso yang dijual ibu kantin dengan harga miring. Tapi jangan salah, meski harganya miring rasanya nggak pernah ngalahin makanan di restoran michelin. Terpenting ngenyangin dan nggak bikin resek waktu laper di kelas.
Anak-anak SMA 1 Semar ini sepertinya memang dalam masa pertumbuhan ya. Jadi pasti nggak boleh kalau lapar lama-lama. Kurang sebutir nasi aja itu perut, mereka bakalan demo besar-besaran di lapangan dan nggak mau ada pelajaran lagi. Terkadang, kesian Pak Karyono karena harus lari ke sana kemari ngurusi anak-anak sableng yang masih mirip bocah TK.
Tapi hari ini suasana kantin terasa sangat berbeda, segerombolan anak yang selalu rebutan terlihat lebih kalem dan mau antre cukup panjang. Bahkan Dito yang doyan makan dan rela ngutang ke Bu Kantin itu terlihat lebih kalem di deretan anak-anak yang lagi antre. Beberapa kali dia mendongak dan kasih kode ke Bu Kantin. Sangking takutnya dia kehabisan gorengan kesayangan yang selalu dibeli buat dimakan bareng bekal nasi yang dibawain maminya. Darma yang ikutan antre cuma bisa ngikik heran lihat sahabatnya itu celingukan gelisah.
“Yakin kamu Dit masih mau antre aja dan nggak nyeruduk anak-anak?” tanya Darma.
“Diem kamu Ris (Darma memang sering dipanggil Ris alias Moris),” gerutu Dito dan membuat Lala yang ikutan antre ketawa cekikikan liat ekspresi Dito.
Antre tanpa rusuh yang dilakukan anak-anak ajaib ini memang bukan alasan. Waktu upacara hari senin kemarin, Pak Preng (Kepala Sekolah SMA 1 Semar) kasih pengumuman challenge “Bersikap Dewasa” ke anak-anak. Dalam challenge ini, juri utamanya adalah guru, ibu kantin, sampai tukang kebun. Nggak tanggung-tanggung, Pak Preng ngasih janji hadiah besar buat anak-anak yang dapat nilai paling bagus dalam challenge ini.
“Pak, challenge apaan itu? Kurang menarik pak,” celetuk Dito sembari mengacungkan tangannya. Pak Karyono yang berdiri di belakang Pak Preng cuman bisa melotot ke Dito. Abisnya, bisa-bisanya Dito nyeletuk nanya di tengah khidmat upacara senin pagi. Teman-teman Dito dari kelas lain pun jadi ikutan nanya. Upacara senin yang biasanya khidmat jadi rame banget kayak rapat dewan. Dari barisan paling utara sampai selatan berebut ngacungkan tangan buat nanya. Sudah nggak kondusif banget deh pokoknya gegara si Dito.
Pak Preng yang belum selesai menyampaikan pidatonya cuman bisa napok jidatnya. “Diam semua anak-anak,” teriak Pak Preng sembari mengetuk microphone pidatonya beberapa kali. Sesaat anak-anak langsung terdiam.
“Ini challenge belum dimulai aja kalian sudah ribut ya. Sudah, pokoknya kalian semua harus ikutan challenge ini. Silakan dipikir sendiri apa itu maksudnya ‘Bersikap Dewasa’. Nanti yang menang diumumkan hadiahnya waktu ulang tahun sekolah,” tutup Pak Preng. Upacara senin pagi itu pun akhirnya dibubarkan. Anak-anak masuk ke kelas masing-masing dan berdiskusi ke sana ke mari.
“Apaan sih ini challenge, nggak ngarti babar blas,” celetuk Danur, teman sekelas Darma.
“Nggak tahu, tanya aja sama chatganbate,” jawab Darma yang jalan bareng Danur menuju kelas bersama Dito.
Obrolan challenge bersikap dewasa ini pun masih terus berlanjut saat jam pelajaran. Pak Karyono yang masuk ke kelas XC sampai bawa penggaris panjang buat nakut-nakutin anak-anak yang debat ramai sendiri. Penggarisnya nggak bakalan dipukulin ke anak-anak kok, abisnya kalau nanti dipukul katanya kena pasal penganiayaan, lha kan merepotkan. Hehehehe.
“Fokus anak-anak, ini kok masih berdebat saja. Debatin apa?,” tanya Pak Kar sembari menunjuk gerombolan anak-anak yang berisik dengan penggaris kayu panjangnya itu.
“Masih penasaran pak, itu challenge Pak Preng apaan maksudnya,” tanya Dito.
“Wih, penasaran banget ya kalian?” goda Pak Kar.
“Iya pak, apaan itu. Terus hadiahnya apaan pak?” tanya anak-anak kompak.
“Ih, nggak mau-lah ya saya kasih informasi gratisan. Kalian yang nilai ulangannya A tak kasih tahu informasi rahasianya,” jawab Pak Kar, anak-anak pun teriak ‘huuuu’ dengan kompak.
Bel istirahat berbunyi. Anak-anak kelas XC yang masih penasaran itu sepanjang jalan menuju kantin masih asyik diskusi tentang challenge ‘Bersikap Dewasa’ Pak Preng. Obrolan yang sama itu ternyata juga menjadi bahan gossip hangat di hampir semua kelas, termasuk kakak kelas XII yang sangat dihormati anak-anak kelas X dan XI.
“Eh, ada bocoran nih dari Bu Beti. Katanya challenge ini hadiahnya besar banget. Rugi katanya kalau nggak mau ikutan. Lagian nggak ada pendaftarannya juga. Cukup bersikap dewasa aja katanya. Yang nilai diem-diem, sampai bu kantin ikutan nilai,” kata Dwe, murid kelas XIIA yang juga ketua OSIS SMA 1 Semar.
Omongan ini nggak sengaja didenger Darma, Dito, Danur, dan Lala yang waktu itu lewat depan kelas XIIA waktu ma uke kantin. Keempatnya langsung berjalan ngelonyor menuju kantin. Di sana, mereka melihat pemandangan yang tak biasa. Anak-anak mulai antre tanpa berebut. Bahkan mereka terlihat merapikan seragamnya dan berbicara menggunakan Bahasa formal di depan Bu Kantin. Keempat sahabat ini pun ikutan antre dengan lebih kalem.
“Lama banget ini anak-anak antrenya, keburu masuk kelas lagi,” gerutu Lala.
“Sabar Lala, kan kita sedang menunggu giliran. Tidak boleh marah-marah,” jawab Danur.
“Iya Lala, kita nggak boleh, eh maksudnya tidak boleh marah. Harus sabar,” timpal Dito. Darma dan Lala saling pandang heran dengan kelakuan dua sahabatnya itu.
Kini giliran Dito mendapat antrean untuk memasan ke Bu Kantin. “Ibu kantin, saya pesan bakso satu dikasih gorengan dan minumnya tidak usah ya Ibu. Saya sudah bawa minum dari rumah,” kata Dito. Bu kantin berasa disambar gledek karena heran.
“Lah, kenapa lu tong. Tumbenan ngomong kalem amat. Biasanya tereak-tereak. Kenape itu lak lakan? Lagi sariawan lu tong?,” tanya Bu Kantin.
“Tidak Ibu Kantin, saya setiap hari selalu seperti ini. Ucapan saya yang kemarin-kemarin mohon dimaafkan Bu. Kemarin kelepasan karena baterainya kebanyakan di charger,” jawab Dito. Bu kantin langsung ngakak mendengarnya.
Danur yang awalnya mau ikutan challenge pun merasa geli sendiri. Dia lalu memesan bakso dan es teh sama dengan Darma dan Lala. Keempatnya lalu makan bersama. Sementara Dito masih dengan kelakuan abnormalnya. Duduk dengan kaki sopan dan sesekali melirik tersenyum ke arah Bu Kantin.
Bahkan setelah selesai makan Dito menyempatkan diri berpamitan ke Bu kantin unutuk kembali ke kelas. Teman-temannya pun masih terheran-heran dengan kelakuan ajaib itu. Sementara Bu Kantin mulai menikmati kelakuan tak bias aitu. Dirasa Bu Kantin hiburan yang tak biasa untuk hilangkan stress.
Satu minggu sudah Dito bersikap tak biasa seperti itu. Pujian pun banyak diterimanya bukan hanya dari guru dan ibu kantin, tapi dari teman-teman sekelasnya juga. Semua tugas piket menyapu, ngepel, dan membersihkan papan tulis tuntas dilakukan Dito sendirian. Anak-anak pun keheranan tapi juga merasa senang, berharap Dito selama tiga tahun kedepan bersikap seperti itu.
Sampai pada akhirnya puncak hari ulang tahun SMA 1 Semar ke-99 tahun. Lha buset, umur sekolah ini sudah lama banget ya. Lebih tua dari usia kemerdekaan Republik Indonesia. Dito yang merasa sudah ‘bersikap dewasa’ itu terlihat harap-harap cemas. Ketika ketemu Pak Preng sekalipun, Dito masih mempertahankan senyum simpulnya yang membuat Pak Preng takut dan memilih kabur.
Pada malam puncak hari jadi SMA 1 Semar itu memang direncanakan ada pemberian penghargaan kepada para guru hingga siswa, termasuk pemenang challenge ‘Bersikap Dewasa’ yang diinisasi Pak Preng. Bahkan di lapangan sudah ada sebuah bungkusan besar yang ditaruh tepat di samping kanan panggung acara. Bungkusan itu ditutup dengan kain hitam, dan gosipnya itu merupakan hadiah utama buat pemenang challenge ‘Bersikap Dewasa. Anak-anak tak satupun yang dibolehkan mendekat dan melihatnya.
Dito yang penasaran matanya semakin berbinar. Dia dengan sangat yakin bisa memenangkan hadiah utama itu. Teman-teman satu kelasnya pun menjadi pendukung utama yang sejak awal bersorak untuk Dito.
“Dito, Dito, Dito,” sorak teman-teman Dito di sela pidato Pak Preng.
“Kenapa ini anak-anak XC pada rame banget?,” Pak Preng dari atas panggung bertanya sembari menunjuk gerombolan siswa yang duduk tepat di depan panggung utama. Sementara Dito berlagak sok cool dan berwibawa.
Tak mau kalah, kelas lain bersorak menjagokan temannya masing-masing. Sampai pada akhirnya Dito yang perwakilan kelas X satu-satunya diundang naik ke atas panggung dengan perwakilan kelas lain yang semuanya dari kelas XI dan XII. Hati Dito semakin nggak karu-karuan. Wajahnya memerah dan dengan penuh yakin membawa pulang hadiah berukuran besar yang ada di samping kanan panggung itu.
“Kali ini pasti aku yang bakalan bawa pulang hadiahnya Ris,” celetuk Dito kepada Darma saat akan menaiki panggung utama.
Darma, Danur, dan Lala ikut gerogi. Mereka sama sekali tak mengira sahabatnya itu menjadi perwakilan yang dipilih oleh teman-teman satu angkatannya. Rasanya ingin menangis menunggu hasilnya.
Di atas panggung, Dito berdiri tegak dengan dagu terangkat, berusaha terlihat semartabat mungkin di antara kakak-kakak kelasnya yang tampak lebih santai. Sorot lampu panggung membuatnya silau, tapi ia tetap mempertahankan senyum simpul yang menurutnya “berwibawa,” meski bagi Pak Preng itu lebih mirip ekspresi orang yang sedang menahan sakit perut.
“Nah, anak-anak,” suara Pak Preng menggema lewat pengeras suara. “Challenge ‘Bersikap Dewasa’ ini bukan cuma soal siapa yang paling kalem atau siapa yang paling sering nyapu kelas. Tapi soal siapa yang paham bahwa menjadi dewasa berarti berani mengambil tanggung jawab dan jujur pada diri sendiri.”
Pak Preng berjalan mendekati bungkusan besar misterius yang ditutup kain hitam itu. Semua mata tertuju ke sana. Dito sudah membayangkan isinya; mungkin motor baru, satu set komputer gaming, atau setidaknya paket umrah gratis dari sekolah.
“Berdasarkan penilaian tim juri rahasia, termasuk Bu Kantin yang sempat curhat kalau dia rindu teriakan Dito yang hobi ngutang gorengan…” Pak Preng melirik Dito sambil terkekeh. “Pemenang challenge kali ini jatuh kepada…”
Suasana hening. Hanya suara jangkrik dari belakang aula yang terdengar.
“Perwakilan dari kelas XC… Ananda Dito!”
“WAAAAAA!!!” Darma, Danur, dan Lala loncat kegirangan. Teman-teman sekelas Dito langsung membuat gaduh, melupakan tantangan bersikap dewasa yang baru saja berakhir sedetik lalu.
Dito melangkah maju dengan gemetar. Pak Preng menyalaminya dengan erat. “Selamat, Dit. Kamu membuktikan kalau kamu bisa tertib kalau ada maunya. Sekarang, silakan buka hadiah utamanya.”
Dengan tangan gemetar, Dito menarik kain hitam itu. Sreeet!
Bukan motor, bukan komputer. Di hadapan seluruh murid SMA 1 Semar, terpajang sebuah Patung Maneken yang mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu, dan di tangannya terdapat sebuah papan bertuliskan: “KUPON JADI KEPALA SEKOLAH SEHARI”.
Dito melongo. “Maksudnya apa ini, Pak?”
Pak Preng merangkul pundak Dito. “Sesuai janji Bapak, hadiahnya besar. Tanggung jawab besar! Besok, di hari ulang tahun sekolah yang ke-99, kamu akan menggantikan posisi Bapak selama satu hari penuh. Kamu yang memimpin rapat guru, kamu yang mengawasi kantin, dan kamu yang harus memastikan tidak ada anak-anak yang ‘sableng’ di lapangan. Gimana? Dewasa banget kan hadiahnya?”
Seluruh lapangan pecah oleh tawa. Darma dan Danur sampai guling-guling di rumput melihat wajah Dito yang langsung pucat pasi.
“Eh, tapi tenang Dit,” bisik Pak Preng di dekat mikrofon supaya semua orang dengar. “Ada bonus tambahannya. Bu Kantin bilang, semua utang gorenganmu tahun lalu dianggap lunas sebagai upeti untuk Kepala Sekolah baru!”
Dito yang awalnya lemas, tiba-tiba tegak lagi. Matanya berbinar. “Beneran lunas, Pak?”
“Lunas!” teriak Bu Kantin dari kejauhan sambil mengacungkan spatula.
Dito langsung merebut mikrofon dari tangan Pak Preng. Dengan gaya sok bos besar, dia berteriak, “PERHATIAN SEMUA! SELAKU KEPALA SEKOLAH BARU, BESOK TIDAK ADA ULANGAN HARIAN! SEMUA GORENGAN DI KANTIN SAYA SUBSIDI… PAKE DANA BOS… EH, MAKSUDNYA PAKE SENYUM SAYA!”
Malam puncak itu berakhir dengan tawa yang lebih keras dari biasanya. Di usianya yang hampir seabad, SMA 1 Semar masih tetap sama; penuh dengan kegilaan, kejutan, dan guru-guru ajaib yang tahu betul cara mendidik muridnya tanpa harus selalu memakai penggaris kayu.
Darma, Lala, dan Danur berjalan pulang sambil merangkul Dito yang masih sibuk memikirkan pidato untuk besok pagi. Bagi mereka, hadiah itu bukan soal apa isinya, tapi soal bagaimana Pak Preng selalu berhasil membuat mereka sadar bahwa sekolah bukan cuma tempat cari nilai, tapi tempat belajar jadi manusia—dengan cara yang paling seru. (PIT/GEM).

