Study Tour

LITERASI JATIMTIMES – Pagi itu agak gerimis. Tapi Darma memilih untuk tetap berangkat sekolah menggunakan payung berwarna kuning kesayangan adiknya. Saat di jalan, Darma bertemu dengan sahabatnya Lala dan Dito. Ketiganya berjalan beriringan menuju SMA 1 Semar. Raut wajah ketiganya tampak lebih sumringah dibanding hari biasanya. Ketiganya pun mengenakan setelan yang tak biasa.

Darma mengenakan jeans panjang berwarna biru muda dan atasan kaos putih yang ditutup dengan kemeja flannel kesayangannya. Lala pun mengenakan setelan rok denim dan mengenakan aksesoris bandana di atas rambut yang ia gerai. Sementara Dito, masih selalu dengan style hip hopnya.

“Hallo brother and sistar,” sapa Dito.

“Keren nih,” jawab Darma dan Lala kompak.

“Nih, satu satu buat kalian. Titipan dari mami,” kata Dito sembari memberikan dua bungkusan berisi snack buatan maminya.

Ketiganya nyegir dan melanjutkan perjalanan sampai ke sekolah. Sesampainya di sekolah, tampak anak-anak kelas X sampai kelas XII SMA 1 Semar berkumpul di aula dan lapangan sekolah. Semuanya tampak sangat ceria di tengah gerimis yang masih menemani. Tampak diantara para murid itu ada yang membawa koper hingga ransel berukuran sangat besar. Maklum, hari ini mereka ada rencana Study Tour ke Kota Zamzam.

Study Tour yang dilaksanakan di SMA 1 Semar ini memang selalu rutin dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Jadi selalu bersamaan dari kelas X sampai kelas XII. Rombongannya sudah pasti cukup besar dan membutuhkan armada yang banyak pula. Bapak kepala sekolah yang akrab disapa anak-anak Pak Peng. Nama aslinya sih Pak Santoso, tapi karena orangnya berbadan kecil sama anak-anak dipanggil Pak Peng alias Pak Krempeng. Emang dasar ya anak-anak ini kalau kasih panggilan seenaknya saja. Untung Pak Kepsek orangnya asyik dan nggak suka menghukum muridnya tanpa alasan.

“Selamat pagi bapak,” sapa anak-anak kepada Pak Preng dengan sopan. Satu persatu dari mereka pun menyalami Pak Preng secara bergantian. Berebut salim seperti anak ayam yang berebut makan sama induknya.

“Waduh, mau ngguling ini Bapak. Jangan berdesakan kayak mau ambil sembako ya,” teriak Pak Preng yang masih diserbu gerombolan anak-anak.

Pak Preng memang sangat dicintai murid-muridnya. Sebagai orang dengan tahta tertinggi di sekolah, Pak Preng memang dikenal sebagai sosok yang mengayomi dan banyak memberikan pelajaran tak terduga untuk murid-murid ajaibnya di SMA 1 Semar. Pernah suatu ketika, kelas Darma berisik saat jam kosong dan amat mengganggu kelas tetangga. Berkali-kali ditegur anak-anak kelas XC itu hanya sunyi sesaat ketika dipelototi Bapak/Ibu Guru dari kelas tetangga. Tapi setelah ditinggal, kelas kembali seperti sarang tawon yang super semrawut. Darma yang juga sebagai ketua kelas bukannya meminta diam teman-teman kelasnya, eh malah ikutan guyon sama temannya ngalor ngidul. Darma meloncat dari satu sudut bangku ke sudut bangku lain ikut menikmati permainan kelompok teman-temannya. Anak satu ini memang cukup energik dan akrab dengan semua teman sekelasnya yang jumlahnya ada 25 anak itu. Bahkan, di kelas tetangga sampai kakak kelas dia cukup populer.

“Woi curang, masak iya itu di lempar ke sana karetnya. Harusnya Dadang yang menang,” teriak Darma di tengah-tengah perselisihan Dadang dan Dudung soal lomba lempar tali karet di dalam kelas.

Anak-anak langsung noleh dan ngerubung kelompok bermain karet ini. Mereka berdebat seolah sedang dalam olimpiade besar. Sampai-sampai ada Pak Peng masuk kelas mereka tak menyadarinya.

“Loh iya, ini seharusnya karetnya yang urutan pertama ini yang menang. Kalau yang karet warna merah ini sudah menyentuh garis, jadinya nggak bisa menang,” kata Pak Preng sembari menunjuk karet permainan anak-anak yang ada tepat di depan papan tulis.

Anak-anak masih tak menyadari Pak Preng yang kala itu ikut jongkok di samping Darma. Mereka masih berdebat satu sama lain untuk memutuskan pemenang kompetisi lempar karet antara Dadang dan Dudung itu.

“Ya sudah, ayo diulang tandingnya biar adil,” kata Pak Preng lagi sembari mengambil karet di tanah. Sontak anak-anak berteriak saat karet itu diambil.

Suasana yang ramai tiba-tiba hening sesaat. Anak-anak melihat laki-laki yang memgang karet itu bukan  kawan sekelasnya, melainkan  Kepala Sekolah SMA 1 Semar. Satu per satu dari mereka tiba-tiba berjalan mundur dan duduk di bangku masing-masing. Suasana kelas yang seperti ompreng pecah langsung kondusif.

“Lha kenapa kok balik ke bangku? Kan bisa tanding ulang, ayo siapa yang mau tanding sama Bapak?,” tanya Pak Preng. Anak-anak cuman bisa diam membeku.

“Maaf pak,” celetuk Darma sebagai seorang ketua kelas.

“Ngapain minta maaf?,” tanya Pak Preng.

“Eng… itu pak, kelasnya kosong dan kami bosan. Jadinya bermain di kelas,” jawab Darma lagi.

“Lha memang kalau jam kosong harus ada rebut-ribut yang menggangu teman kalian di kelas lain?,” tanya Pak Preng.

Anak-anak masih terdiam merasa seolah bersalah. Pak Preng lalu beranjak dari meja guru dan mengajak anak-anak kelas XC ini ke lapangan basket yang jaraknya tak jauh dari kelas mereka. Anak-anak bergumam takut dihukum untuk lari memutari lapangan. “Waduh, alamat wis. Kita disuruh lari berapa putaran nanti di sana,” celetuk Lala dengan centil.

“La, diem deh nggak usah ceriwis,” tegur Darma dengan nada sedikit kesal.

Sesampai di lapangan basket, Pak Preng tiba-tiba meminta anak laki-laki untuk menata sebuah garis berjarak sekitar dua setengah meter. Pada garis paling ujung Pak Preng menggambar lingkaran.

“Ayo mana karetnya, yang menang melawan saya nanti nggak saya hukum,” tantang Pak Preng.

Anak-anak yang awalnya tegang tiba-tiba terpacu dan langsung rebutan mau ikut berkompetisi.

“Kalau yang karetnya keluar dari lingkaran maka dinyatakan kalah. Pemenangnya kalau karetnya bertahan di titik paling tengah lingkaran kedua,” jawab Pak Preng. Dengan percaya diri Pak Preng melempar gelang karetnya yang berwarna merah. Sekali percobaan, karet Pak Preng malah melenceng hampir menyentuh garis luar lingkaran. Anak-anak langsung bersorak kegirangan.

Sekarang giliran Darma yang beberapa menit sebelumnya terpilih sebagai perwakilan kelas setelah perdebatan sengit antar atlet lempar karet di kelas XC. Suasana tegang dan membuat Darma berkeringat deras saat akan melempar gelang karetnya. Tak disangka, karet Darma mendarat di tengah titik yang membuat anak-anak bersorak gembira nggak karuan.

Tapi pertandingan belum selesai. Sekarang giliran Pak Preng melempar karet keduanya. Dengan raut wajah tegang karet gelang kedua yang brwarna hijau dilempar Pak Preng, dan lagi-lagi tak menyentuh titik tengah.

Darma yang merasa menang mulai terlihat santai. Karet kedua dilemparnya dan ternyata berada di dalam lingkaran yang jaraknya berdekatan dengan karet milik Pak Preng. Anak-anak langsung lemas sesaat. Giliran Pak Preng melempar gelang karet ketiganya, dan langsung tepat ada di pusat lingkaran kemenangan. Skor Pak Darma kini jauh di atas milik Darma.

Melihat kondisi itu Darma jadi amat grogi. Lemparan karet ketiga milik Darma akhirnya meleset dan tak mengenai titik poin tertinggi. Anak-anak bersorak lemas dan hanya Pak Preng yang bersorak kegirangan. Alhasil, anak-anak bandel itu dihukum berlari tiga kali putaran. Mereka bahkan dapat bonus tugas essai dari Pak Preng yang wajib dikumpulkan di akhir pekan ini.

“Jangan lupa ya anak-anak, setelah lari nanti masuk kelas lagi. Abis ini Pak Karyono kan jadwalnya di kelas kalian. Esainya juga jangan sampai lupa ya. Wajib tulis tangan tidak boleh diketik,” Pak Peng pun meninggalkan anak-anak kelas XC dengan raut wajah bahagia. Sementara anak-anak yang dihukum lari diawasi oleh Guru Olah Raga yang bertugas saat itu.

Lamunan Darma terpecah saat ada bunyi sirine megafon dibunyikan Pak Preng. Candaan adu karet itu masih menjadi bahan candaan anak-anak XC. Dari kejadian itu anak-anak menyadari bahwa mereka memang salah melakukan keributan di jam pelajaran. Sekarang, saat jam pelajaran kosong mereka tak lagi ramai di dalam kelas. Tapi bergantian lari ke lapangan basket dan membuat keributan di sana. Dasar, anak-anak ini memang nggak punya kapok.

Begitulah ceritanya kenapa Pak Preng ini sangat disayangi muridnya dan selalu dijadikan rebutan. Bahkan di hari mereka akan pergi Study Tour ke Kota Zamzam hari ini. Banyak murid yang berebut untuk bisa satu bus sama Pak Preng. Sampai-sampai satu per satu data penumpang bus digerudug anak-anak. Tapi tetap saja, anak-anak sudah ditentukan tempat duduknya. Jadi nggak bisa dong seenaknya minta satu bus sama Pak Preng.

“Yah, rugi dong. Kita nggak bisa satu bus sama Pak Preng,” kata Lala dengan nada lemas.

“Tenang La, kan masih ada Dadang sama Dudung nanti yang nemenin,” ledek Dito.

Darma tertawa melihat wajah cemberut Lala. Ia melirik ke arah bus depan, di mana Pak Preng tampak ikut sibuk mengomando murid-muridnya dengan megafon kecil di tangan. Darma sadar, bukan study tour yang penting, tapi kehadiran sosok-sosok seperti Pak Preng-lah yang membuat masa SMA mereka selalu punya cerita yang layak untuk dikenang. (pit).

Post navigation